“Sejak awal bulan lalu, kami melihat semakin banyak karyawan yang menggunakan sepeda ke kantor. Ini perkembangan yang positif karena bersepeda bukan hanya membuat tubuh lebih sehat, tetapi juga menjadi bentuk dukungan terhadap efisiensi energi,” ujar Hendra.

Hendra mengatakan, aktivitas bersepeda juga membangun suasana kebersamaan di antara karyawan. Mereka yang biasanya bertemu di ruang kerja, kini memiliki ruang interaksi lain melalui kegiatan gowes.

“Kami ingin gerakan ini berkelanjutan. Kalau semakin banyak karyawan yang ikut, pesan yang disampaikan juga semakin kuat bahwa kita bisa berkontribusi terhadap penghematan energi mulai dari diri sendiri,” katanya.

Dari Riau, cerita berlanjut ke Medan. Di PTPN IV Regional I, Rahmad Syahputra memilih berjalan kaki menuju kantor setiap hari. Keputusan itu ia lakukan bukan karena kampanye tertentu, tetapi karena ia memang menyukai olahraga.

Baca juga:  PTPN IV Regional IV Gelar Aksi Bersih-Bersih Lingkungan Peringati Hari Lingkungan Hidup 2026

“Bagi saya berjalan kaki ke kantor itu menyenangkan. Saya memang suka olahraga, jadi aktivitas ini sekaligus menjadi cara menjaga kebugaran sebelum mulai bekerja,” ujar Rahmad.

Bagi Rahmad, berjalan kaki menjadi pilihan yang masuk akal selama jarak rumah dan kantor masih memungkinkan. Ia merasa tubuhnya lebih siap untuk bekerja setelah bergerak sejak pagi.

“Kalau jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, saya lebih memilih jalan. Lebih sehat, lebih sederhana, dan tentu lebih hemat energi,” katanya.

Kebiasaan serupa juga dilakukan Hery Kusdiyanto, karyawan PTPN IV Regional VII Lampung. Setiap hari, ia berjalan kaki menuju kantor. Alasannya sederhana: lebih hemat.

“Menurut saya berjalan kaki itu lebih hemat. Tidak perlu biaya transportasi, tidak menggunakan BBM, dan badan juga terasa lebih segar,” ujar Hery.

Baca juga:  Upgrade Gaya Berkendara, Honda Hadirkan Pilihan Aksesoris dan Apparel Kece untuk Pengendara All New Honda Vario 125

Menurut Hery, berjalan kaki menjadi bentuk penghematan yang paling mudah dilakukan apabila kondisi memungkinkan. Ia tidak perlu mengeluarkan biaya perjalanan, sekaligus mendapatkan manfaat kesehatan.

“Kalau bisa dimulai dari diri sendiri, kenapa tidak? Hal kecil seperti berjalan kaki ternyata memberi manfaat untuk kesehatan dan lingkungan,” katanya.

Cerita para karyawan PalmCo dari Jakarta, Riau, Medan, hingga Lampung memperlihatkan bahwa isu efisiensi energi tidak selalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Dalam banyak hal, ia justru hadir melalui pilihan-pilihan kecil yang berulang: naik kereta, naik bus, bersepeda, atau berjalan kaki.

Di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat penghematan energi dan mengurangi ketergantungan pada BBM, kebiasaan semacam ini menjadi relevan. Bukan sebagai gerakan besar yang penuh slogan, tetapi sebagai praktik sederhana yang bisa dilakukan sesuai kondisi masing-masing.

Baca juga:  Jelang Lebaran, Bank Jambi Pastikan Layanan Prima dan Pencairan THR ASN Tetap Lancar

Bagi karyawan yang tinggal di wilayah dengan akses transportasi publik, kereta dan bus menjadi pilihan. Bagi yang jarak rumahnya tidak terlalu jauh dari kantor, sepeda atau berjalan kaki menjadi alternatif. Pilihan-pilihan tersebut mungkin tampak kecil, tetapi dapat membawa dampak apabila dilakukan secara luas dan konsisten.

Pada akhirnya, kampanye bebas emisi tidak hanya berbicara tentang teknologi, kendaraan listrik, atau kebijakan berskala besar. Ia juga bisa dimulai dari perjalanan pagi para pekerja menuju kantor.

Dari satu tiket kereta, satu perjalanan bus, satu kayuhan sepeda, hingga satu langkah kaki, upaya menghemat energi menemukan bentuknya yang paling sederhana. (*)