Infrastruktur, Geopolitik, dan Ancaman Ekonomi Global

Kondisi ini memperlihatkan lemahnya diversifikasi ekonomi Jambi dalam menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih stabil. Ketika belanja pemerintah turun, aktivitas ekonomi langsung melemah karena sektor swasta belum mampu mengambil peran lebih besar. Ketika harga komoditas terganggu, ekonomi daerah juga langsung kehilangan daya dorong utama pertumbuhannya. Situasi ini menunjukkan bahwa ekonomi daerah belum memiliki basis industri pengolahan yang cukup kuat untuk menciptakan nilai tambah berkelanjutan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Jambi masih cenderung bersifat fluktuatif dan mengikuti siklus komoditas global.

Persoalan lainnya adalah bahwa kenaikan harga komoditas belum tentu otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas. Dalam banyak kasus, keuntungan terbesar justru dinikmati perusahaan besar dan kelompok pemilik modal yang terhubung dengan perdagangan komoditas global. Sementara itu, dampak pengganda terhadap ekonomi rakyat relatif terbatas karena sebagian besar aktivitas ekonomi masih berorientasi pada penjualan bahan mentah. Batu bara dan sawit sebagian besar diekspor tanpa proses hilirisasi industri yang mampu menciptakan nilai tambah lebih tinggi di daerah. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi secara statistik terlihat meningkat, tetapi distribusi manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat luas.

Baca juga:  Rektor Universitas Jambi Lantik Pimpinan Baru di Beberapa Fakultas dan Program Pascasarjana

Selain persoalan struktur ekonomi, Jambi juga masih menghadapi tantangan serius dalam bidang infrastruktur dan efisiensi distribusi ekonomi. Polemik jalan hauling batu bara yang berkepanjangan memperlihatkan lemahnya sinkronisasi kebijakan antara kepentingan ekonomi dan kepentingan publik. Kemacetan angkutan batu bara, kerusakan jalan, dan tingginya biaya logistik menyebabkan aktivitas ekonomi menjadi tidak efisien. Kondisi ini bukan hanya mengganggu masyarakat, tetapi juga mengurangi daya saing ekonomi daerah dalam jangka panjang. Jika persoalan infrastruktur tidak segera diselesaikan, maka potensi pertumbuhan ekonomi Jambi akan terus tertahan oleh biaya ekonomi yang semakin tinggi.

Ketergantungan terhadap komoditas juga membuat ekonomi Jambi sangat rentan terhadap perubahan geopolitik global yang sulit diprediksi. Perlambatan ekonomi Tiongkok, perubahan kebijakan perdagangan internasional, dan ketidakpastian harga energi dunia dapat langsung memengaruhi permintaan ekspor komoditas daerah. Artinya, arah pertumbuhan ekonomi Jambi saat ini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh faktor lokal semata. Daerah menjadi sangat bergantung pada dinamika pasar global yang sering kali berada di luar kendali pemerintah daerah maupun pelaku ekonomi lokal. Dalam situasi seperti ini, ketahanan ekonomi daerah menjadi sangat penting agar guncangan global tidak langsung melemahkan ekonomi masyarakat.

Baca juga:  Batubara vs Budaya: Candi Muarojambi dalam Pusaran Kepentingan Ekonomi dan Pelestarian Warisan 

Prospek Triwulan Berikutnya dan Agenda Transformasi Ekonomi

Untuk Triwulan II dan III 2026, peluang pemulihan ekonomi Jambi sebenarnya masih cukup terbuka apabila beberapa faktor pendukung bergerak secara positif. Belanja pemerintah biasanya mulai meningkat setelah proses administrasi dan lelang proyek selesai pada awal tahun. Aktivitas konstruksi dan pembangunan infrastruktur juga diperkirakan mulai bergerak kembali pada pertengahan tahun. Selain itu, stabilitas harga batu bara dan CPO dunia masih berpotensi menopang pertumbuhan sektor ekspor daerah. Namun peluang tersebut tetap harus dibaca secara hati-hati karena ketidakpastian ekonomi global masih sangat tinggi dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi bukan sekadar soal angka yang diumumkan setiap triwulan, melainkan tentang sejauh mana kesejahteraan benar-benar dirasakan masyarakat. Jambi sesungguhnya memiliki segudang keunggulan dibanding banyak provinsi lain, mulai dari kekayaan sumber daya alam, posisi geografis yang strategis, potensi perkebunan dan pertambangan, hingga peluang pengembangan ekonomi hijau dan hilirisasi industri. Tantangan perlambatan ekonomi saat ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi yang lebih produktif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang tepat, Jambi tidak hanya dapat tumbuh lebih tinggi, tetapi juga tumbuh lebih kokoh dan merata bagi seluruh masyarakatnya. Sebab daerah yang memiliki kekayaan alam melimpah tetapi masyarakatnya belum sejahtera pada akhirnya hanya akan menjadi daerah kaya tetapi miskin, kaya sumber daya namun miskin nilai tambah, miskin pemerataan, dan miskin masa depan.

Baca juga:  Tolak Tronton Batu Bara Melintas di Jalan Umum, Ancam Keselamatan Warga Sarolangun dan Langgar Hukum

Penulis Merupakan Pakar Ekonomi Jambi,  Guru Besar Ekonomi Universitas Jambi