TANYAFAKTA.CO, KOTA JAMBI – Sekretaris DPD Partai Golkar Kota Jambi, Iin Habibi, menyoroti serius persoalan pendidikan di Provinsi Jambi saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif bertema “Suara Pemuda Menentukan Sosok Pemimpin Jambi 2029” yang digelar Kesatuan Pemuda dan Pelajar Jambi (KPPJ) di Mutiara Senja JBC, Kota Jambi, Senin malam (18/5/2026).
Dalam forum yang dihadiri puluhan mahasiswa, aktivis, dan organisasi kepemudaan itu, Iin menegaskan bahwa generasi muda harus berani menentukan arah kepemimpinan Jambi ke depan dengan memilih pemimpin yang benar-benar peduli terhadap pendidikan dan kesejahteraan rakyat.
Menurutnya, kondisi pendidikan di Provinsi Jambi saat ini masih memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
“Data dari Kementerian Sosial yang menyebutkan ada sekitar 49 ribu remaja di Provinsi Jambi mengalami putus sekolah adalah tamparan keras bagi dunia pendidikan kita. Ini bukan sekadar angka, tetapi masa depan anak-anak Jambi yang terancam hilang akibat lemahnya perhatian dan buruknya tata kelola pendidikan,” tegas Iin Habibi.
Ia menilai kondisi tersebut semakin menyakitkan karena di tengah tingginya angka putus sekolah, anggaran pendidikan yang seharusnya menjadi harapan masyarakat justru terseret persoalan korupsi.

“Dari total sekitar Rp120 miliar anggaran pendidikan di Provinsi Jambi, terdapat Rp21 miliar yang menjadi kerugian negara akibat praktik korupsi. Ini adalah pengkhianatan terhadap masa depan generasi muda,” ujarnya.
Menurut Iin, korupsi di sektor pendidikan tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merampas hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Ia meminta aparat penegak hukum bertindak tegas dan transparan dalam mengusut seluruh pihak yang terlibat dalam dugaan penyalahgunaan anggaran pendidikan tersebut.
“Jangan sampai rakyat kecil dipaksa menerima kenyataan anaknya putus sekolah, sementara oknum yang merampok uang pendidikan hidup nyaman tanpa rasa bersalah. Pendidikan adalah hak rakyat, bukan ladang bancakan anggaran,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Iin juga menilai anak muda harus aktif mengawal kebijakan pemerintah dan tidak bersikap apatis terhadap kondisi daerah.
“Pemuda jangan takut bersuara. Daerah ini membutuhkan generasi yang kritis, berani, dan punya kepedulian terhadap masyarakat,” ujarnya.
Ia turut menyoroti sejumlah persoalan pembangunan di Provinsi Jambi yang dinilai masih belum menyentuh kebutuhan dasar masyarakat secara maksimal, mulai dari kondisi pendidikan, kesejahteraan guru, hingga infrastruktur.
“Masih banyak sekolah yang membutuhkan perhatian, kesejahteraan guru yang belum maksimal, hingga jalan-jalan rusak yang harus segera diperbaiki. Hal-hal seperti ini harus terus dikawal bersama,” tegasnya.
Dialog interaktif yang digelar KPPJ tersebut berlangsung dinamis dengan berbagai pembahasan terkait politik, pendidikan, ekonomi, hingga arah pembangunan daerah menjelang kontestasi kepemimpinan Jambi 2029.
Forum itu sekaligus menjadi ruang konsolidasi gagasan anak muda dalam menentukan sosok pemimpin masa depan Provinsi Jambi.
Diakhir pemamparannya, Iin Habibi turut mendorong semangat membaca para pemuda untuk memupuk nilai kritis dengan buku-buku yang mengasah nalar dan pikiran para pemuda.
Ia membagikan dua buku yakni buku Semangat Muda karya Tan Malaka dan buku filsafat.
“Semoga pikiran kritis terus terpelihara untuk memberikan gagasan pemuda untuk Jambi yang lebih baik kedepannya,”pungkasnya
Dialog interaktif tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya akademisi muda Zakly Hanafi Ahmad, Sekretaris DPW Partai Gelora Indonesia Provinsi Jambi M. Adi Satria, Sekretaris DPD PKS Kota Jambi Wasril Tanjung, serta Ketua PWI Kota Jambi yang diwakili Reza Zebua.
Ketua Umum KPPJ, Adiyansyah, yang juga bertindak sebagai moderator, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian pemuda terhadap kondisi daerah dan nasional yang dinilai masih membutuhkan banyak pembenahan.
“Forum ini lahir dari keresahan anak-anak muda Jambi. Kami ingin mahasiswa dan pemuda tidak hanya menjadi penonton politik, tetapi ikut terlibat menentukan arah pembangunan dan masa depan daerah,” ujarnya.
Menurutnya, generasi milenial dan Gen Z saat ini menjadi kelompok pemilih terbesar di Indonesia, sehingga memiliki pengaruh besar terhadap lahirnya pemimpin di masa mendatang.
“Kalau anak muda apatis, maka masa depan daerah juga dipertaruhkan. Karena itu kami ingin membangun budaya diskusi, budaya kritis, dan budaya peduli terhadap daerah,” tambahnya.
Adiyansyah juga menyebut forum tersebut menjadi ajang silaturahmi antaraktivis, tokoh pemuda, dan pelajar yang selama beberapa tahun terakhir jarang bertemu akibat pandemi Covid-19.
“Ini menjadi sarana silaturahmi. Semoga dengan kegiatan ini persatuan di antara kita semakin kuat dan kokoh dalam memberikan gagasan untuk membangun Provinsi Jambi,” tuturnya. (*)




Tinggalkan Balasan