TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Kelapa sawit selama ini identik dengan minyak goreng. Namun, di tangan seorang inovator asal Kabupaten Muaro Bungo, komoditas andalan Indonesia itu menjelma menjadi aneka produk pangan bernilai ekonomi tinggi.

Melalui Workshop Kuliner Sawit yang akan digelar di Hotel Infinity, Kota Jambi, pada 9–10 Juni 2026 mendatang, inovator kuliner Iin Arlina akan kembali memperkenalkan bolu sawit dan berbagai produk olahan berbahan dasar kelapa sawit kepada masyarakat.

Mengusung tema “Tumbuhkan Inovasi Baru, Ciptakan Aneka Penganan Berbahan Dasar Sawit sebagai Peluang Baru UMKM”, kegiatan ini akan diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari kalangan pelaku UMKM, mahasiswa, hingga ibu rumah tangga.

Tidak hanya mendapatkan materi, peserta juga akan diajak mempraktikkan secara langsung proses pengolahan pangan berbahan baku sawit, mulai dari pengolahan sari pati hingga menghasilkan produk siap konsumsi.

Workshop ini diselenggarakan oleh perusahaan media yang getol bicara tentang sawit, bukan hanya soal pemberitaan tetapi turut aktif dalam mendorong inovasi kreatif bernilai ekonomi berbahan sawit.

Perusahaan tersebut adalah Elaeis Media Group (EMG). Yang mana pada kegiatan workshop kali ini EMG mendapat dukungan penuh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP). BPDP sendiri selama ini sangat getol melakukan Pemberdayaan UMKM & Koperasi Petani Komoditas Perkebunan, agar UMKM Perkebunan Naik Kelas.

Sebelumnya, kegiatan serupa telah sukses digelar di Muaro Bungo pada November 2024, Surabaya pada April 2025, Yogyakarta pada Juni 2025, serta Semarang pada Agustus 2025. Kini, workshop tersebut kembali hadir di Jambi, salah satu daerah penghasil sawit terbesar di Indonesia.

Baca juga:  Wali Kota Maulana Launching Wisata Kuliner Kota Tua, Siap Jadi Ikon Baru Jambi

Ketua Panitia Pelaksana, Warsito, mengatakan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas yang terus menjadi perhatian dunia. Meski kerap mendapat berbagai tudingan negatif, seperti dianggap merusak lingkungan dan boros air, kontribusi sawit terhadap perekonomian nasional tetap sangat besar.

Menurutnya, industri sawit telah menyumbang devisa negara lebih dari Rp600 triliun, mengurangi impor hingga lebih dari Rp400 triliun, serta membantu menahan emisi karbon sekitar 32 juta ton CO2e per tahun.

Selain itu, sektor sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 16,5 juta tenaga kerja. Jika setiap pekerja memiliki empat anggota keluarga, maka sedikitnya 66 juta jiwa menggantungkan hidupnya pada industri sawit.

“Selama ini masyarakat hanya mengenal sawit sebagai bahan baku minyak goreng. Padahal, buah sawit juga bisa diolah menjadi berbagai makanan yang mengandung vitamin dan nutrisi tinggi,” ujar Warsito.

Salah satu sosok yang berhasil membuktikan potensi tersebut adalah Iin Arlina. Perempuan berusia 55 tahun asal Muaro Bungo itu mulai mengembangkan pangan berbasis sawit sejak 2014.

Ide tersebut lahir dari pengamatan sederhana terhadap ayam peliharaannya yang dilepas di kebun sawit milik keluarga. Ayam-ayam itu memakan brondolan sawit matang yang jatuh ke tanah dan tumbuh lebih sehat.

Baca juga:  Walikota Jambi Jadi Narasumber di Podcast Nusaraya, Kupas Tuntas Visi Kota Jambi Bahagia

Dari situlah rasa penasaran muncul. Jika sawit dapat dikonsumsi hewan, mungkinkah juga diolah menjadi makanan yang aman dan bernilai bagi manusia?

Berbekal keyakinan tersebut, Iin mulai bereksperimen. Perjalanannya tidak mudah. Berbagai percobaan dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit. Bahkan, jemarinya beberapa kali terluka akibat duri tajam tandan sawit saat mencari formulasi yang tepat.

Kegigihan Iin yang tidak mengenal kata “menyerah” tersebut akhirnya membuahkan hasil.

Kini, Iin berhasil mengembangkan berbagai produk pangan berbahan dasar sawit, mulai dari bolu sawit, keripik sawit, kue kering sawit, selai sawit, rendang sawit, hingga dodol sawit.

Produk andalannya, Bolu Sawit, menggunakan komposisi sekitar 30 persen sari pati sawit dan 70 persen bahan lainnya. Produk tersebut kini menjadi salah satu oleh-oleh khas Muaro Bungo yang banyak diminati masyarakat.

Untuk menjaga kualitas, Iin menggunakan buah sawit varietas Tenera berkualitas premium sebagai bahan baku utama. Bahkan, ia berani membeli tandan buah segar dengan harga lebih tinggi dibanding harga pasar.

“Saya punya mimpi agar semakin banyak masyarakat yang mampu mengolah sawit menjadi produk bernilai tambah. Semakin banyak produk pangan berbahan sawit yang diproduksi, maka semakin besar pula peluang peningkatan pendapatan petani sawit,” ujarnya.

Melihat potensi besar tersebut, Elaeis Media Group menggandeng Iin untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada masyarakat melalui berbagai workshop di sejumlah daerah.

Baca juga:  Baru Buka 4 Hari, Taman Banjuran Budayo Sudah dikunjungi 60 Ribu Orang

Chief Executive Officer (CEO) Elaeis Media Group, Abdul Aziz, mengatakan bahwa peserta workshop di Jambi tidak hanya akan menerima teori, tetapi juga praktik langsung, mulai dari menyiapkan bahan baku, mengolah sari pati sawit, hingga menghasilkan produk pangan siap konsumsi.

“Kegiatan ini bertujuan membuktikan bahwa sawit bukan hanya dapat diolah menjadi minyak goreng, melainkan juga memiliki potensi besar sebagai bahan baku berbagai produk pangan bernilai ekonomi,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Bung Aziz itu berharap workshop tersebut mampu melahirkan inovasi-inovasi baru di sektor kuliner berbasis sawit, menumbuhkan pelaku usaha baru, sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat terhadap potensi hilirisasi kelapa sawit.

Menurutnya, kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang memiliki manfaat luas bagi kehidupan masyarakat.

“Artinya, kelapa sawit merupakan komoditas yang penting bagi kehidupan masyarakat. Sehingga tentu tanaman ini baik untuk kehidupan,” katanya.

Aziz menambahkan, workshop tersebut juga menjadi bagian dari upaya konkret EMG dalam mengampanyekan manfaat sawit kepada masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan industri perkebunan sawit nasional yang terus didorong pemerintah.

“Melalui workshop ini, Elaeis Media Group berharap peserta nantinya tidak hanya memahami potensi sawit sebagai bahan baku pangan, tetapi juga mampu melihatnya sebagai peluang usaha baru yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian daerah Provinsi Jambi. Peluang ini adalah bagian dari keberlanjutan itu,” pungkas Aziz. (*)