Setelah menemukan formulasi yang tepat, produksi melon Chaidir terus meningkat. Permintaan pasar pun semakin besar, baik melalui media sosial maupun dari pusat perbelanjaan dan swalayan. Bahkan, permintaan tersebut belum mampu dipenuhi seluruhnya.

Namun pada Desember 2024, Chaidir mengalami stroke ringan yang membuatnya harus menggunakan kursi roda. Kondisi tersebut sempat menghentikan aktivitas pertaniannya.

Melihat kondisi itu, Pertamina EP Field Rantau berinisiatif melanjutkan pengembangan usaha Chaidir melalui Program Smart Agriculture Melonesia.

Kini, Chaidir dipercaya menjadi mentor bagi Kelompok Tani Melon Mutiara sekaligus pengajar dalam Sekolah Lapang Pertamina EP Field Rantau. Dalam program tersebut, ia membagikan pengalaman mengenai teknik budidaya melon, termasuk formula menghasilkan rasa manis dan inovasi pengelolaan media tanam polybag yang dapat digunakan hingga 22 kali masa tanam.

Baca juga:  PHR Gelar Continuous Improvement & Innovation Forum (CIIF) 2025, Hadirkan 392 Inovasi untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Dengan biaya media tanam sekitar Rp8.000 per polybag, penggunaan berulang membuat biaya media tanam setiap siklus budidaya hanya berkisar Rp400 hingga Rp500. Angka tersebut jauh lebih efisien dibandingkan metode budidaya konvensional yang umumnya hanya dapat memanfaatkan media tanam sebanyak dua hingga empat kali.

Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Sekolah Lapang merupakan bagian dari Program Smart Agriculture Melonesia yang dikembangkan Pertamina EP Field Rantau sebagai upaya mendorong regenerasi petani sekaligus transformasi pengetahuan budidaya melon.

“Bapak Chaidir Saleh memiliki pengalaman panjang sebagai petani sehingga akan membagikan materi mengenai formula budidaya melon. Nantinya akan ada 12 kali pertemuan Sekolah Lapang yang dimentori langsung oleh Pak Chaidir,” ujarnya.

Baca juga:  Hari Batik Nasional, Komitmen PHR Berdayakan Masyarakat dan Lahirkan Batik Khas di Tanah Sumatera

Menurut Iwan, generasi muda di pedesaan memiliki peran penting dalam menentukan masa depan sektor pertanian. Karena itu, mereka perlu dibekali kemampuan dan keterampilan agar mampu menjadikan pertanian sebagai usaha yang menjanjikan.

“Program ini bukan sekadar CSR, tetapi merupakan upaya nyata meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi. Kami ingin Melon Golden menjadi ikon baru kebanggaan Aceh Tamiang,” pungkasnya. (*)