TANYAFAKTA.CO, ACEH TAMIANG – Sinar matahari menyinari kebun Melon Golden Alisha milik Chaidir Saleh (62). Di tengah hamparan polybag, dua perempuan tampak sibuk menggemburkan tanah yang tengah difermentasi menggunakan sekam bakar dan pupuk kandang. Aktivitas itu menjadi bagian dari persiapan media tanam pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November 2025.
“Mereka sedang fermentasi tanah dengan sekam bakar dan pupuk kandang. Cukup digemburkan bagian atas polybag saja,” ujar Chaidir saat memberikan arahan kepada sejumlah anak muda di kebunnya, Rabu (21/7/2026).
Kebun milik Chaidir berada di dekat Stasiun Pengumpul Minyak (SP-7), Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Di atas lahan seluas tiga rante atau sekitar 1.200 meter persegi, ratusan batang Melon Golden Alisha tumbuh dengan sistem budidaya menggunakan polybag.
Chaidir memanfaatkan lahan tersebut secara optimal dengan menggunakan polybag berukuran 50×60 sentimeter, jarak tanam yang rapat, serta jalur antartanaman selebar 1,5 meter. Ia juga memangkas beberapa ruas batang agar nutrisi tanaman lebih terfokus pada pembesaran buah.
“Tujuan memangkas daun dan ruas batang agar dapat melihat buah dengan lebih baik, mengetahui jumlahnya, sekaligus menjaga bentuk buah,” jelasnya.
Varietas yang dipilih adalah Melon Golden Alisha F1, yang dikenal memiliki ketahanan terhadap penyakit serta nilai jual yang tinggi. Dari hasil budidaya melon tersebut, Chaidir mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya hingga menyekolahkan anaknya sampai lulus perguruan tinggi.
Namun, perjalanan menuju keberhasilan itu tidak diraih dengan mudah. Chaidir mengaku sempat mengalami kegagalan hingga empat kali saat pertama kali mencoba membudidayakan melon. Meski demikian, ia tidak menyerah dan terus belajar secara otodidak.
Pada 2020, ia kembali menanam melon dengan bekal pengetahuan baru. Meski panen perdana berhasil, rasa buah yang dihasilkan masih hambar sehingga terpaksa dijual di bawah harga pasar.
Kendati demikian, Chaidir tetap bersyukur karena berhasil memanen buah. Ia kemudian terus mempelajari teknik budidaya hingga menemukan formula yang menghasilkan melon dengan cita rasa manis.
Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan adalah memperpanjang masa panen. Jika umumnya melon dipanen pada usia sekitar 55 hari, ia memilih memanennya pada umur 60 hingga 70 hari. Selain itu, perawatan dan pemupukan yang konsisten sejak fase vegetatif hingga panen juga menjadi faktor penting.
Setelah menemukan formulasi yang tepat, produksi melon Chaidir terus meningkat. Permintaan pasar pun semakin besar, baik melalui media sosial maupun dari pusat perbelanjaan dan swalayan. Bahkan, permintaan tersebut belum mampu dipenuhi seluruhnya.
Namun pada Desember 2024, Chaidir mengalami stroke ringan yang membuatnya harus menggunakan kursi roda. Kondisi tersebut sempat menghentikan aktivitas pertaniannya.
Melihat kondisi itu, Pertamina EP Field Rantau berinisiatif melanjutkan pengembangan usaha Chaidir melalui Program Smart Agriculture Melonesia.
Kini, Chaidir dipercaya menjadi mentor bagi Kelompok Tani Melon Mutiara sekaligus pengajar dalam Sekolah Lapang Pertamina EP Field Rantau. Dalam program tersebut, ia membagikan pengalaman mengenai teknik budidaya melon, termasuk formula menghasilkan rasa manis dan inovasi pengelolaan media tanam polybag yang dapat digunakan hingga 22 kali masa tanam.
Dengan biaya media tanam sekitar Rp8.000 per polybag, penggunaan berulang membuat biaya media tanam setiap siklus budidaya hanya berkisar Rp400 hingga Rp500. Angka tersebut jauh lebih efisien dibandingkan metode budidaya konvensional yang umumnya hanya dapat memanfaatkan media tanam sebanyak dua hingga empat kali.
Manager Community Involvement & Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan Sekolah Lapang merupakan bagian dari Program Smart Agriculture Melonesia yang dikembangkan Pertamina EP Field Rantau sebagai upaya mendorong regenerasi petani sekaligus transformasi pengetahuan budidaya melon.
“Bapak Chaidir Saleh memiliki pengalaman panjang sebagai petani sehingga akan membagikan materi mengenai formula budidaya melon. Nantinya akan ada 12 kali pertemuan Sekolah Lapang yang dimentori langsung oleh Pak Chaidir,” ujarnya.
Menurut Iwan, generasi muda di pedesaan memiliki peran penting dalam menentukan masa depan sektor pertanian. Karena itu, mereka perlu dibekali kemampuan dan keterampilan agar mampu menjadikan pertanian sebagai usaha yang menjanjikan.
“Program ini bukan sekadar CSR, tetapi merupakan upaya nyata meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi. Kami ingin Melon Golden menjadi ikon baru kebanggaan Aceh Tamiang,” pungkasnya. (*)





Tinggalkan Balasan