Menurutnya, pencegahan merupakan langkah paling penting, terlebih saat memasuki puncak musim kemarau. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

“Kita harus sama-sama menjaga. Jangan sampai karena kelalaian atau membuka lahan dengan membakar, kemudian api tidak terkendali dan menimbulkan kebakaran yang lebih luas,” tegasnya.

Karhutla tidak hanya berdampak terhadap kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu berbagai sektor kehidupan masyarakat. Asap akibat Karhutla dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Selain berdampak terhadap kesehatan, kabut asap juga berpotensi mengganggu aktivitas pendidikan dan transportasi. Pengalaman penanganan kabut asap di Jambi menunjukkan bahwa kondisi asap yang memburuk dapat menyebabkan kegiatan belajar mengajar terganggu hingga sekolah diliburkan. Sementara itu, menurunnya jarak pandang juga dapat menghambat aktivitas penerbangan.

Korem 042/Gapu bersama jajaran akan terus melakukan upaya penanggulangan Karhutla melalui pengerahan personel, pemantauan wilayah, serta koordinasi dengan seluruh unsur terkait.

Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari komitmen bersama untuk mencegah meluasnya kebakaran sekaligus melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak Karhutla. (*)