TANYAFAKTA.CO, SURAKARTA — Inovasi pemberdayaan masyarakat dari wilayah operasi Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1 tidak hanya diuji melalui dampaknya di lapangan, tetapi juga dibawa ke ruang ilmiah untuk dipelajari dan dibagikan. Melalui ajang ISRA Conference & Awards 2026, empat program PHR Zona 1 meraih penghargaan sekaligus tujuh paper ilmiah dipresentasikan dalam forum tersebut.

Empat penghargaan yang diraih terdiri atas Platinum, Gold, Silver, dan Bronze. Masing-masing melalui program yang mengusung pendekatan berbeda, mulai dari pemberdayaan ekonomi masyarakat, inklusi sosial, pendidikan, hingga pelestarian lingkungan.

Pertamina EP (PEP) Pangkalan Susu menjadi peraih penghargaan tertinggi dengan Platinum kategori Economic Empowerment melalui program PALUH ASRI. Penghargaan tersebut diterima langsung Field Manager PEP Pangkalan Susu, Edwin Susanto. Program PALUH ASRI juga dipresentasikan dalam ISRA Conference 2026 melalui paper ilmiah yang membahas pemberdayaan masyarakat pesisir dan pelestarian lingkungan melalui pengembangan Edu Ekowisata Mangrove Pasar Rawa.

Penghargaan berikutnya diraih PEP Rantau melalui Inklusi Coffee yang memperoleh Gold. Program tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong pemberdayaan yang lebih inklusif di masyarakat. PEP Lirik memperoleh Silver melalui program LILAC, sementara PHE North Sumatera Offshore (NSO) meraih Bronze melalui program Inong Bale.

Capaian tersebut tidak berhenti pada panggung penghargaan. Tujuh paper ilmiah dari unit operasi PHR Zona 1 turut dipresentasikan dalam ISRA Conference 2026, membuka ruang bagi praktik pemberdayaan masyarakat di wilayah operasi untuk dibahas melalui pendekatan ilmiah. Dari PHE NSO, paper ilmiah yang dipresentasikan mengangkat kolaborasi pentahelix dalam pemberdayaan petani kakao perempuan kepala keluarga. PEP Pangkalan Susu membahas PALUH ASRI sebagai model pemberdayaan masyarakat pesisir yang sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.

PEP Lirik mengangkat tema pemberdayaan perempuan melalui model MELATI dengan pendekatan ekonomi sirkular dalam Program Kampung Iklim (PROKLIM) di Desa Lambangsari V, Riau. Sementara itu, PHR Zona 1 mempresentasikan kajian mengenai ketahanan sosial-ekologis dan keterlibatan masyarakat dalam berbagai program Community Involvement and Development (CID) di wilayah operasinya.

PEP Rantau mengangkat DIGDAYA Task Force, sebuah pendekatan berbasis hak asasi manusia dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana di Aceh Tamiang. PEP Pangkalan Susu membahas model CSR terintegrasi dalam upaya penurunan stunting berkelanjutan. Sedangkan PEP Jambi mempresentasikan PERISAI AIR, yang menghubungkan pembangunan pertanian berkelanjutan dengan transformasi sosial-ekonomi dan penguatan social license to operate.

Tujuh makalah ilmiah tersebut menunjukkan spektrum pendekatan yang luas: dari ekonomi, lingkungan, kesehatan, kesetaraan gender, ketahanan bencana hingga penguatan hubungan sosial antara perusahaan dan masyarakat.