Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil dan masyarakat dengan gangguan pernapasan harus mendapat perhatian khusus.

Ground Power dan Air Power Harus Tetap Kuat

Operasi udara pada 3 September masih melibatkan helikopter patroli dan beberapa helikopter water bombing, termasuk dukungan Super Puma TNI AU.

Ivan mengapresiasi seluruh personel yang bekerja di lapangan, tetapi kembali mengingatkan agar kinerja operasi udara tidak semata-mata diukur dari jumlah sortie atau volume air.

“Water bombing penting, tetapi itu instrumen. Outcome-nya yang harus kita ukur: berapa api berhasil dipadamkan, berapa hektare terselamatkan, berapa cepat pendinginan selesai dan apakah api tidak muncul kembali,”katanya.

Menurutnya, operasi udara harus ditopang ground power yang kuat melalui BPBD, TNI-Polri, Manggala Agni, MPA, perusahaan serta jaringan pos Karhutla.

Tata Air Tetap Menjadi Kunci

Ivan menegaskan bahwa fluktuasi hotspot yang begitu cepat memperlihatkan pentingnya memperkuat strategi pencegahan.

Pemadaman tetap diperlukan ketika kebakaran terjadi, tetapi untuk memutus siklus Karhutla diperlukan pengelolaan air melalui sekat kanal, embung, pembasahan kembali, monitoring muka air dan penguatan MPA-Air sebagai pelengkap Masyarakat Peduli Api.

“Kalau kita hanya menunggu hotspot, kita selalu berada satu langkah di belakang. Kita harus mengetahui kapan air mulai turun, kapan gambut mulai mengering dan kapan patroli harus ditingkatkan sebelum api muncul,”lanjutnya.

Ia mendorong agar jaringan pos Karhutla berkembang menjadi simpul early warning yang mengintegrasikan hotspot, curah hujan, kondisi sumber air, muka air gambut, arah angin dan kualitas udara.

Penegakan Hukum Meningkat, 13 Tersangka

Dari sisi penegakan hukum, laporan terbaru mencatat 71 kasus, terdiri atas 59 kasus tahap penyelidikan dan 12 kasus penyidikan, dengan 13 orang tersangka.

Angka tersebut meningkat dibanding laporan sebelumnya. Ivan mendukung penegakan hukum secara tegas, objektif dan berbasis alat bukti.

“Pencegahan dan penegakan hukum harus berjalan bersama. Kalau ada unsur pidana, proses sesuai hukum. Tetapi kita juga perlu mengetahui apakah kebakaran terus berulang pada kawasan yang sama.”

Ia mendorong integrasi data hotspot, firespot, lokasi pengelolaan lahan, kejadian berulang dan perkembangan perkara untuk memperkuat pengawasan.

DPRD Dorong Satu Command Center

Ivan menilai pengalaman Karhutla 2026 semakin menunjukkan kebutuhan terhadap satu sistem pengambilan keputusan terpadu.

Konsepnya adalah:

hotspot + muka air + curah hujan + ISPU + arah angin + pos + sumber air + armada + perusahaan + gakkum

yang diintegrasikan ke dalam satu dashboard command center.

“Jangan data berada di banyak meja tetapi keputusan terlambat. Kita membutuhkan satu data, satu peta, satu komando dan satu tujuan,”katanya.

Menurut Ivan, strategi Karhutla Jambi harus berdiri di atas tujuh pilar: early warning, ground power, air power, water management, smoke management, public health, dan law enforcement, kemudian dilanjutkan dengan restorasi kawasan terbakar.

Jangan Hanya Hitung yang Terbakar

Ivan mengatakan DPRD akan terus mendorong perubahan indikator keberhasilan penanganan Karhutla.

Pemerintah tidak cukup hanya melaporkan jumlah hotspot, luas terbakar, water bombing dan jumlah operasi.

“Kita juga harus menghitung berapa hektare yang berhasil tidak terbakar, berapa kebakaran yang berhasil dihentikan sebelum membesar, berapa cepat udara kembali sehat, dan berapa kerugian masyarakat yang berhasil kita hindari,”ujar Ivan.

Ia menegaskan lonjakan hotspot 3 September harus menjadi pengingat bahwa penanganan Karhutla membutuhkan konsistensi hingga risiko benar-benar menurun secara stabil.

“Jangan karena dua hari hotspot turun kita menganggap musim kebakaran selesai. Hari ini 258 titik kembali muncul. Jadi tetap siaga, jaga air, perkuat patroli, padamkan cepat, lindungi masyarakat dan tegakkan hukum,” pungkas Ivan. (*)