Ia juga menyelipkan celetukan berbahasa Jambi, “Pala otak kau,” saat menceritakan pengalaman tersebut. Penggunaan bahasa daerah itu menghadirkan kedekatan dengan keseharian masyarakat sekaligus memberikan warna lokal pada materi komedinya.
Selain cerita tentang berjualan, Riskal menyesuaikan materi dengan pengalaman personal, termasuk kisah mengenai namanya yang berkaitan dengan harapan orang tuanya dahulu untuk memiliki anak perempuan.
Persiapan menuju final dilakukan berulang kali sejak pengumuman peserta terpilih hingga hari penampilan. Riskal juga memperoleh masukan dari dosen dan rekan-rekan kontingen UNJA, termasuk kesempatan berlatih di hadapan Wakil Rektor.
“Saya mencoba melihat dunia kewirausahaan dari sisi yang sering kami alami sendiri sebagai mahasiswa. Ada proposal, jualan, revisi, presentasi, dan banyak hal yang sebenarnya serius, tetapi kalau dilihat dari sudut berbeda bisa menjadi bahan humor,” ungkap Riskal dikutip dari unja.ac.id.
Menurutnya, stand up comedy memiliki tantangan berbeda dibandingkan presentasi bisnis. Dalam pitching, peserta berusaha meyakinkan juri tentang potensi usaha, sedangkan dalam komedi, peserta harus membangun kepercayaan audiens terhadap cerita dan premis yang disampaikan agar humor dapat diterima.
Pengalaman pertamanya itu berbuah penghargaan. Riskal mengaku senang sekaligus terharu ketika namanya diumumkan sebagai peraih Juara Harapan II. Ia juga mengingat penilaian juri yang melihat dirinya memiliki karakter serta mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
“Bagi saya, keduanya sama-sama menegangkan karena pitching TerraGrow dan stand up comedy adalah prioritas. Jadi, rasa cemasnya berlipat,” ujarnya.
Dari kompetisi tersebut, Riskal belajar untuk lebih berani berbicara di hadapan khalayak. Ia juga menyadari bahwa keberanian mencoba, kesungguhan berlatih, dan konsistensi merupakan bagian penting dalam mencapai hasil.
Kreativitas dan Identitas Lokal di Panggung Nasional
Prestasi Kirab Budaya dan Stand Up Comedy Kewirausahaan memperlihatkan dua bentuk kreativitas mahasiswa yang saling melengkapi. Kirab Budaya menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas dan nilai tradisi, sedangkan stand up comedy menunjukkan kemampuan mengolah pengalaman menjadi komunikasi yang menarik dan mudah diingat.
Dalam ekosistem kewirausahaan, kemampuan tersebut dapat mendukung pengembangan gagasan dan usaha. Produk tidak hanya membutuhkan kualitas dan strategi bisnis, tetapi juga komunikasi yang efektif agar nilai dan keunggulannya dapat dipahami masyarakat.
Melalui Kirab Budaya, UNJA membawa tradisi Melayu Jambi ke ruang pertemuan mahasiswa dari berbagai daerah. Sementara itu, melalui Riskal Rinaldi, UNJA menunjukkan bahwa pengalaman membangun usaha juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi kreativitas komunikasi.
Dua penghargaan tersebut menjadi bagian dari capaian kontingen UNJA di KMI Expo XVII 2026. Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran kewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan produk, penjualan, dan pengembangan bisnis, tetapi juga mencakup kemampuan bekerja sama, keberanian tampil, kreativitas, serta upaya memperkenalkan identitas daerah di tingkat nasional. (*)




Tinggalkan Balasan