TANYAFAKTA.COBekas luka biasanya dianggap sebagai akhir dari proses penyembuhan kulit. Namun pada sebagian orang, bukannya memudar, bekas luka justru berkembang menjadi benjolan tebal, kenyal, dan sering kali membesar melampaui batas luka aslinya. Kondisi ini dikenal masyarakat sebagai “daging tumbuh”, dan secara medis disebut sebagai keloid. Keloid bisa muncul dari luka kecil seperti gigitan serangga, bekas jerawat, tindik, hingga sayatan bedah.

Daging tumbuh bukanlah luka baru, melainkan reaksi berlebihan dari tubuh dalam memproduksi kolagen saat menyembuhkan luka. Pada orang yang rentan, produksi kolagen menjadi tidak terkontrol dan menumpuk hingga membentuk jaringan parut tebal yang terus tumbuh. Tidak seperti bekas luka biasa yang mengecil dan memudar seiring waktu, keloid bisa membesar dan menetap selama bertahun-tahun jika tidak diobati.

Faktor utama penyebab keloid adalah genetik. Jika ada riwayat keluarga dengan keloid, maka risiko Anda untuk mengalaminya jauh lebih tinggi. Keloid juga lebih sering terjadi pada orang dengan warna kulit lebih gelap, seperti keturunan Asia, Afrika, atau Amerika Latin. Namun, siapa pun tetap bisa mengalaminya jika tubuhnya memiliki kecenderungan untuk membentuk jaringan parut berlebih.

Baca juga:  Ketombe Membandel Bertahun-Tahun: Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

Tak hanya mengganggu secara estetika, daging tumbuh juga bisa menimbulkan keluhan fisik. Banyak penderita mengeluhkan rasa gatal, perih, bahkan nyeri yang menetap pada area keloid. Dalam kasus tertentu, keloid bisa membatasi pergerakan jika tumbuh di daerah yang sering bergerak seperti sendi, leher, atau bahu. Secara psikologis, kondisi ini juga sering menyebabkan turunnya kepercayaan diri, terutama bila muncul di area wajah atau bagian tubuh yang mudah terlihat.

Untuk mengatasi keloid, terdapat berbagai metode medis yang tersedia. Salah satu cara yang paling umum adalah suntikan kortikosteroid langsung ke jaringan keloid. Suntikan ini bertujuan untuk mengurangi peradangan dan mengecilkan ukuran keloid secara perlahan. Biasanya diperlukan beberapa kali suntikan dalam interval tertentu agar hasilnya maksimal. Selain itu, terapi laser juga sering digunakan untuk meratakan permukaan keloid dan mengurangi warnanya, meskipun hasilnya bisa berbeda-beda pada setiap orang.

Baca juga:  Ini 7 Tips Menghilangkan Bekas Luka

Dalam beberapa kasus, keloid dapat diangkat melalui prosedur bedah. Namun perlu diingat, operasi bukanlah solusi akhir karena keloid memiliki kecenderungan untuk tumbuh kembali—bahkan bisa lebih besar dari sebelumnya. Oleh karena itu, operasi sering dikombinasikan dengan terapi radiasi ringan atau injeksi kortikosteroid setelah pengangkatan untuk mencegah kekambuhan.

Perawatan topikal seperti gel silikon atau plester penekan juga direkomendasikan, terutama untuk keloid kecil atau baru terbentuk. Produk-produk ini bekerja dengan memberikan tekanan konstan pada keloid sehingga pertumbuhannya dapat ditekan. Beberapa orang juga mencoba metode alami seperti penggunaan lidah buaya, minyak vitamin E, atau madu. Namun, bahan-bahan alami ini lebih berperan sebagai perawatan pendukung dan biasanya tidak cukup efektif untuk keloid yang besar atau sudah lama.

Baca juga:  Bunga Kuku: Apa Itu dan Apa yang Perlu Anda Ketahui

Untuk mencegah bekas luka berubah menjadi keloid, penting bagi siapa pun yang memiliki riwayat keloid untuk lebih waspada. Hindari prosedur yang tidak penting seperti tindik atau tato, terutama di area tubuh yang rentan. Jika mengalami luka, segera rawat dengan bersih dan gunakan krim penyembuh luka yang dianjurkan oleh dokter. Pemantauan sejak awal sangat penting, karena semakin cepat keloid ditangani, semakin besar kemungkinan pertumbuhannya bisa dikendalikan.

Daging tumbuh dari bekas luka adalah kondisi kulit yang tidak bisa diabaikan. Meskipun tidak bersifat kanker atau menular, keloid dapat membawa dampak signifikan terhadap kenyamanan fisik dan emosional seseorang. Penanganan yang tepat—baik melalui medis maupun perawatan jangka panjang—dapat membantu mengurangi ukuran keloid dan meningkatkan kualitas hidup penderita secara keseluruhan.