Oleh karena itu, investasi di bidang pendidikan dan pelatihan vokasional sangat krusial. Pemerintah perlu mendorong sinergi antara lembaga pendidikan, industri, dan lembaga pelatihan kerja agar mampu menyiapkan SDM yang selaras dengan kebutuhan pasar. Selain itu, penguatan pendidikan dasar dan menengah harus terus dilakukan secara merata di seluruh wilayah, terutama di daerah dengan ketimpangan pembangunan yang tinggi.

Ketimpangan Upah dan Inklusi Ekonomi

Meskipun terdapat peningkatan dalam rata-rata upah buruh, yakni sebesar Rp3,09 juta per bulan pada Februari 2025, ketimpangan upah antara pria dan wanita, antara pekerja muda dan lansia, serta antara pekerja berpendidikan rendah dan tinggi masih sangat mencolok.

Hal ini menunjukkan bahwa ketidaksetaraan dalam distribusi hasil pembangunan ekonomi belum berhasil diatasi secara menyeluruh. Dalam jangka panjang, ketimpangan semacam ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi inklusif dan menciptakan ketegangan sosial.

Baca juga:  Tren Kenaikan Penyakit Menular dan Target Zero Growth 2030 di Provinsi Jambi

Kebijakan makroekonomi yang efektif harus memperhatikan kesenjangan antar kelompok ini melalui langkah-langkah afirmatif seperti kebijakan pengupahan minimum sektoral yang mempertimbangkan keadilan gender, program pelatihan kerja untuk kelompok marjinal, serta insentif kepada perusahaan yang memperkerjakan kelompok rentan.

Selain itu, penguatan jaminan sosial dan program perlindungan tenaga kerja informal juga akan meningkatkan rasa aman dan meningkatkan produktivitas secara tidak langsung.

Sinergi Pemerintah dan Swasta untuk Ciptakan Ketenagakerjaan Berkualitas

Salah satu titik terang dari arah pembangunan ketenagakerjaan Indonesia adalah munculnya kesadaran bahwa transformasi ketenagakerjaan tidak bisa diserahkan hanya pada pasar atau negara semata. Diperlukan sinergi antara sektor publik dan swasta untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal.

Baca juga:  Dinamika Perdagangan Internasional Indonesia: Analisis Ekspor–Impor Berdasarkan Data BPS Oktober 2025

Pemerintah dapat berperan dalam menyediakan infrastruktur pelatihan dan kebijakan insentif, sementara sektor swasta dapat berperan aktif dalam menyerap tenaga kerja dan memberikan pelatihan berbasis kebutuhan industri.

Kebijakan makro fiskal seperti pembangunan pusat pelatihan kerja, pembukaan kawasan industri baru di daerah tertinggal, serta insentif perpajakan bagi perusahaan yang merekrut tenaga kerja lokal menjadi strategi yang harus diintegrasikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan perencanaan anggaran pemerintah pusat dan daerah.

Jalan Menuju Pertumbuhan Inklusif dan Berkelanjutan

Transformasi sektor ketenagakerjaan Indonesia adalah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi kebijakan, pembiayaan yang berkelanjutan, serta komitmen lintas sektor. Penurunan angka pengangguran adalah kemajuan yang perlu diapresiasi, namun bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Kita harus terus mendorong penguatan sektor formal, peningkatan kualitas SDM, dan pengurangan ketimpangan sebagai bagian dari strategi makroekonomi nasional.

Baca juga:  Konsumsi Menggerakkan Negeri

Sebagai pendidik ekonomi, saya percaya bahwa masa depan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada kualitas dan kesejahteraan tenaga kerja kita. Melalui pendekatan kebijakan makro yang berpihak pada inklusivitas dan pembangunan manusia, Indonesia dapat mewujudkan pertumbuhan yang tidak hanya tinggi, tetapi juga adil dan berkelanjutan.

Penulis merupakan Mahasiswa Magister Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta