Program Jumet Drama (Jumat Minum Tablet Tambah Darah Bersama) bagi 6.000 remaja putri.

Balai Remaja Cegah Stunting (Baja Ceting) dan gerakan Remaja Peduli Stunting (Reli Ceting) di desa.

Pemberian makanan tambahan bergizi tinggi, termasuk susu dan telur, kepada bayi dan balita stunting.

Bantuan beras fortivit sebanyak 5 kg per bulan selama enam bulan untuk 102 balita stunting.

Pemberian PMT (pemberian makanan tambahan) lokal bagi ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK).

Audit kasus stunting secara berkala.

Bantuan Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) oleh pejabat daerah dan pihak swasta melalui CSR.

Capaian ini turut memperkuat posisi Sarolangun sebagai daerah dengan prevalensi stunting terendah di Provinsi Jambi. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, angka stunting di Sarolangun turun signifikan dari 16,8 persen pada 2022 menjadi 4,8 persen pada 2023. Meski sempat mengalami kenaikan menjadi 6,6 persen pada 2024 berdasarkan data SSGI, Sarolangun tetap mempertahankan posisi terendah se-Provinsi Jambi.

Baca juga:  Wali Kota Alfin Hadiri Survei Akreditasi RSUD H. Bakri Sungai Penuh

“Prestasi ini tidak membuat kita puas diri. Kita akan terus berinovasi dan mengevaluasi kebijakan. Target kita jelas: zero stunting untuk generasi masa depan Sarolangun yang sehat dan maju,” pungkas Hurmin.(*)