Oleh : Azis Samsudin
TANYAFAKTA.CO – Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari manajemen Bank Jambi saat diminta klarifikasi terkait perjalanan 80 pegawainya — termasuk Dewan Komisaris dan Direksi — ke kawasan wisata Dieng, Jawa Tengah.
Upaya penulis untuk mendapatkan penjelasan resmi sudah dilakukan sejak berita pertama tayang, namun hingga kini tidak ada satu pun pernyataan yang keluar. Diamnya manajemen justru memicu gelombang pertanyaan baru: apakah kegiatan ini memang layak dilakukan, atau sekadar menjadi ajang pemborosan yang dibungkus rapat-rapat?
Perjalanan yang disebut sebagai “agenda pengarahan” dari Direktur Utama Bank Jabar Banten (BJB) ini berlangsung beberapa waktu lalu. Seluruh biaya — mulai dari tiket transportasi, akomodasi hotel, konsumsi, hingga uang saku perjalanan — ditanggung oleh Bank Jambi. Tidak ada publikasi resmi terkait berapa besar total anggaran yang dihabiskan, namun dengan jumlah peserta mencapai 80 orang dan lokasi di luar provinsi, perhitungan sederhana menunjukkan nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Pemilihan lokasi di kawasan wisata Dieng memunculkan tanda tanya besar. Di era teknologi komunikasi yang memungkinkan pertemuan virtual dengan biaya nyaris nol, mengapa pengarahan tidak dilakukan secara daring atau di lokasi yang lebih dekat dengan kantor pusat? Pertanyaan ini belum mendapat jawaban, karena manajemen memilih untuk bungkam.
Penulis telah melayangkan email, pesan tertulis, hingga menawarkan jadwal fleksibel untuk pertemuan langsung. Semua saluran komunikasi itu seolah lenyap tanpa balasan. Bahkan, saat beberapa wartawan mencoba menghubungi nomor pribadi pejabat terkait, telepon dibiarkan berdering tanpa diangkat.
Diamnya manajemen bukan sekadar masalah etika komunikasi. Dalam konteks Good Corporate Governance (GCG), transparansi merupakan salah satu prinsip utama yang wajib dijunjung tinggi, terlebih bagi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang mengelola dana publik.
Menurut hemat penulis, kegiatan seperti ini dapat dianalisis menggunakan matriks dua dimensi: likelihood (tingkat kemungkinan terjadi) dan impact (tingkat dampak jika terjadi).
Likelihood Tinggi + Impact Tinggi = Zona Merah. Inilah kategori yang harus menjadi prioritas penanganan.
Likelihood Sedang + Impact Tinggi = Risiko penting, harus segera dimitigasi sebelum berkembang.
Berdasarkan pemetaan risiko, kegiatan perjalanan ke Dieng memunculkan setidaknya lima ancaman besar:
Pemborosan anggaran perjalanan (Likelihood Tinggi, Impact Tinggi) → risiko ini masuk kategori sangat tinggi karena nilainya besar dan potensi reaksi publik cepat muncul.
Sorotan negatif media & publik (Likelihood Tinggi, Impact Tinggi) → berpotensi menggerus reputasi yang telah dibangun bertahun-tahun.
Potensi sanksi regulator jika dianggap melanggar prinsip efisiensi (Likelihood Sedang, Impact Tinggi).
Menurunnya kepercayaan nasabah yang dapat berdampak pada loyalitas jangka panjang (Likelihood Sedang, Impact Tinggi).
Ketidakefisienan program kerja karena tujuan yang bisa dicapai dengan cara lebih murah tidak dioptimalkan (Likelihood Tinggi, Impact Sedang).
Sejak berita pertama terbit, percakapan di media sosial menunjukkan nada kecewa dan marah dari sejumlah nasabah Bank Jambi. Beberapa mempertanyakan komitmen bank terhadap efisiensi, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang menuntut penghematan di semua lini. Ada juga yang mengaitkan kasus ini dengan perlunya pengawasan ketat oleh pemerintah daerah selaku pemegang saham mayoritas.
Sesuai UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, BUMD wajib memberikan informasi yang diminta, apalagi jika menyangkut penggunaan dana perusahaan yang bersumber dari modal daerah. Mengabaikan permintaan informasi tidak hanya berpotensi melanggar hukum, tetapi juga dapat menimbulkan kerugian reputasi yang sulit dipulihkan.
Hingga berita ini kembali tayang, pihak manajemen Bank Jambi belum memberikan keterangan resmi. Redaksi menegaskan akan terus mengawal kasus ini dan memberikan ruang klarifikasi seluas-luasnya bagi manajemen untuk menjelaskan duduk perkara. Namun, selama ruang itu dibiarkan kosong, pertanyaan publik akan terus bergema: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari perjalanan ini?



Tinggalkan Balasan