Oleh karena itu, proses R&D untuk menyempurnakan sistem manajemen tempur, algoritma fusi data, dan jalur komunikasi yang aman dapat memakan waktu bertahun-tahun, seperti dalam pengembangan fregat FDI/Belh@rra.

Platform ini mengintegrasikan manajemen perangkat halus pertahanan siber langsung ke dalam sistem data inti kapal—sebuah fitur yang sudah dirancang sejak tahap awal desain, bukan hanya tambahan belaka. Hasilnya, sistem ini dapat bertahan dari serangan siber yang dapat melumpuhkan kapal dengan perlindungan lebih rendah.

Demikian pula, Australia tertarik dengan fregat kelas Mogami milik Jepang bukan karena kualitas rangka atau persenjataannya, tetapi lantaran pusat informasi pertempuran terintegrasinya yang merupakan hasil R&D Jepang dalam digitalisasi dan otomatisasi. Sistem ini menyatukan navigasi, persenjataan, dan operasi kapal dalam sebuah layar digital 360 derajat, sehingga Mogami dapat memangkas kebutuhan kru kapal dari 160 menjadi 90. Efisiensi sumber daya manusia ini sangat berharga, khususnya mengingat penurunan rekrutmen militer akhir-akhir ini.

Baca juga:  Nation And Character Building (Memperingati 17 Agustus 2024)

Sebaliknya, platform dengan biaya R&D terbatas kerap menemui kendala ketika dioperasikan.Misalnya, ada alasan kuat mengapa tank tempur utama Leopard 2 yang dibuat Jerman—terutama versi A7-nya—merupakan yang termahal di kelasnya, dengan harga lebih dari Rp131 miliar (8 juta dolar AS) per unit. Harga ini mencerminkan proses R&D panjang dalam pembuatan lapisan baja komposit modular, sistem kendali tembak digital modern, integrasi komando dan kendali (C2), dan lain-lain.

Sementara itu, seri T-90 buatan Rusia—yang dijual setengah harga dari Leopard 2—hanyalah seri T-72 yang diperbarui. Meskipun terjangkau, kurangnya proses R&D melemahkan daya tahannya terhadap senjata anti-tank mutakhir serta membuatnya berumur pendek karena keterbatasan potensi modernisasi.

Dengan perkataan lain, harga rendah suatu sistem pertahanan sering kali menutupi biaya tersembunyi. Walaupun dapat menghemat anggaran di awal, platform murah tidak memiliki ketahanan dan potensi modernisasi yang hanya dapat dicapai melalui proses R&D.

Dalam perang, kekurangan ini tidak hanya akan menyebabkan kehilangan peralatan tempur, tetapi juga sumber daya manusia. Bagi sebuah negara seperti Indonesia, kerugian semacam ini dapat berdampak besar pada kapasitas strategis dalam perlindungan kedaulatan.

Baca juga:  Mempertahankan Geliat Ekonomi Lebaran

Pada akhirnya, biaya pengadaan sistem pertahanan yang tinggi merupakan cerminan dari investasi intelektual dan industrial selama puluhan tahun—termasuk ribuan insinyur, serangkaian purwarupa yang gagal, serta eksperimen dan penyempurnaan yang panjang.

Biaya R&D memang membuat setiap unit sistem pertahanan tampak mahal, tetapi sekaligus menjadikannya lebih efisien, andal, dan mampu beroperasi dalam jangka waktu panjang.

Bagi Indonesia, kenyataan ini memunculkan suatu dilema.

Opsi berbiaya rendah mungkin tampak menarik di atas kertas. Namun, kekurangan R&D yang substantif di baliknya justru berisiko menimbulkan biaya yang jauh lebih besar di kemudian hari, baik dalam bentuk kerusakan, keusangan, maupun korban jiwa.

Sebaliknya, sistem yang tercipta dari investasi R&D berkesinambungan memang akan membebani anggaran di awal, tetapi menghadirkan berbagai keunggulan strategis, termasuk kemampuan mencegah serangan dan bertahan di lingkungan yang paling ekstrem sekalipun.

Baca juga:  Tidak Transparan, PKKMB Universitas Jambi Jauh Dari Harapan

Penulis adalah policy analyst paad PT Semar Sentinel Indonesia.