TANYAFAKTA.CO, KOTA JAMBI – Klaim PT. SAS, anak usaha RMKE, bahwa pembangunan stokfile dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) batubara akan memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat sekitar dinilai menyesatkan. Sejumlah pengamat menyebut justru masyarakat yang akan menanggung risiko sosial dan lingkungan, sementara keuntungan hanya dinikmati perusahaan.

Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menegaskan, industri batubara tidak memiliki efek ganda (multiplier effect) yang luas bagi masyarakat.

“Keuntungan finansial utamanya mengalir ke perusahaan dan pemegang saham. Masyarakat paling hanya mendapat remah dalam bentuk retribusi dan transaksi kecil, itu pun sangat terbatas,” ujarnya, Senin (15/9/2025).

Menurutnya, sektor batubara cenderung tertutup karena sebagian besar rantai pasok dan operasional berada dalam kendali perusahaan. Hal itu berbeda dengan sektor pertanian, perdagangan, atau pariwisata yang mampu menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Baca juga:  Soal PT. SAS ! Keselamatan Rakyat, Hukum Tertinggi, Bukan Investasi 

Selain itu, Noviardi menilai keuntungan ekonomi yang dijanjikan tidak sebanding dengan biaya sosial yang ditanggung masyarakat.

“Dampak polusi udara, debu batubara, pencemaran air, hingga kebisingan menimbulkan ongkos kesehatan yang besar. Kajian World Bank 2020 sudah menegaskan, eksternalitas negatif batubara sering kali lebih tinggi dari kontribusi ekonominya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan potensi penurunan nilai tanah dan rumah warga akibat keberadaan stokfile dan TUKS.

“Nilai properti bisa jatuh karena lingkungan tidak sehat. Ini jelas kerugian ekonomi yang nyata,” tuturnya.

Lebih jauh, Noviardi menyebut UMKM yang diharapkan hidup dari aktivitas stokfile dan TUKS sifatnya hanya sementara.

“Kalau operasi berhenti atau pindah, UMKM akan mati. Itu bukan ekonomi berkelanjutan,” tegasnya.

Baca juga:  PT SAS Bakal Bangun TUKS Dekat Intake PDAM, Dedek Kusnadi : Kami Tidak Akan Biarkan

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, ia menilai klaim keuntungan ekonomi dari stokfile dan TUKS batubara lebih merupakan retorika untuk mencari dukungan publik.

“Yang paling untung adalah perusahaan, sedangkan masyarakat menanggung dampak buruknya,” pungkas Noviardi. (*)