Menyalahkan rakyat atas pilihannya setelah menganalisa integritas Partai Politik kontemporer tentu bukan pilihan yang tepat. Tentu bahwa rakyat yang mengantarkan suara di bilik pemilu, namun daftar nama yang akan dicoblos adalah racikan dari dapur Partai Politik. Istilah kata ”disajikan beragam makanan hambar saat perut keroncongan”. Jika menu yang disediakan adalah kandidat yang diragukan integritasnya, maka rakyat pun kehilangan alternatif untuk memilih yang lebih baik. Pada kondisi inilah tanggungjawab moral Partai Politik diharapkan mampu menghadirkan calon-calon pemimpin yang layak dipilih dan dipertanggungjawabkan dikemudian hari.
Partai Politik sudah selayaknya berbenah diri dengan perkembangan zaman. Mulai dari transparansi rekrutmen kader atau anggota partai. Proses seleksi calon legislatif maupun untuk kepala daerah harus lebih diperjelas, terbuka dan meritokrasi. Tidak salah jika publik mengetahui apa tolak ukur yang digunakan oleh partai dalam menentukan kelayakan seseorang untuk diusung.
Keseriusan dalam pendidikan politik, tidak boleh berhenti pada momentum agenda-agenda seremonial maupun indoktrinasi loyalitas semata. Kurikulum pendidikan politik yang menanamkan integritas, paham kebangsaan hingga kemampuan teknokratis perlu dimatangkan pada setiap kader untuk benar-benar siap mengabdi ketika diberikan tanggungjawab dalam jabatan publik.
Elektabilitas memang adalah hal yang melekat dalam setiap tubuh Partai politik, namun jangan sampai menghapus uji kelayakan yang berbasis integritas. Keberanian Partai Politik dalam mengutamakan kandidat yang bersih dari pelanggaran dan memiliki moral yang kuat adalah pilihan yang mahal untuk kondisi saat ini, terlebih ketika elektabilitas tidak dijadikan alasan terpenting dalam mengusung calon pemimpin. Pilihan dengan konsekuensi besar yang berakibat kekalahan kontestasi pada pemilu atau pilkada tentu adalah hal yang tidak diinginkan setiap Partai Politik, namun dengan konsistensi untuk membangun kepercayaan publik akan tumbuh dengan perlahan bahkan ketika tidak dengan hanya janji kampanye semata, melainkan hasil dari integritas yang nyata layak didapatkan dengan proses yang terukur dan inovasi yang berkelanjutan.
Pembenahan pada kualitas Partai Politik memang bukan hal yang mudah. Terdapat tantangan akan godaan budaya transaksional dalam politik yang sudah mendarah daging. Namun, langkah pasti harus mulai ditempuh dengan menjaga marwah demokrasi yang sehat agar terbangun pondasi kaderisasi yang kuat. Sebab pada akhirnya, kualitas Partai politik akan dilihat dari kapasitas calon pemimpin bangsa yang dipersiapkan. Maka rakyat bukan lagi sebagai objek yang dilempar kesalahan saat pejabat publik gagal dalam menjalankan amanahnya.
Budaya dalam melihat kualitas dan mengamati perjalanan Partai Politik dalam mengusung calon pemimpin sudah menjadi sebuah keharusan.
Hanya Partai Politik yang berani serius manawarkan gagasan dan memberikan garansi untuk tegas dalam sanksi kepada setiap kader partai yang memiliki jabatan publik, layak untuk memiliki basis kekuatan massa dan simpatisan yang dirawat di setiap daerah. Kepercayaan publik harus dibayar mahal dengan integritas, kapasitas dan konsistensi.
Penulis Merupakan Ketua DPC GMNI Jambi





Tinggalkan Balasan