Jambi berada dalam apa yang oleh literatur ekonomi pembangunan disebut sebagai commodity dependence trap—tumbuh dari komoditas, tetapi terjebak pada nilai tambah rendah.

Jika struktur ini diproyeksikan ke depan hingga tahun 2045, tanpa perubahan kebijakan yang bersifat struktural dan tanpa lompatan infrastruktur strategis, maka arah ekonomi Jambi relatif dapat dipastikan. Ekonomi akan tetap tumbuh dengan rata-rata 4,3–5 persen per tahun, didorong oleh eksploitasi sumber daya alam dan konsumsi domestik.

Namun, pertumbuhan tersebut tidak akan berubah menjadi akselerasi. Pada saat yang sama, provinsi-provinsi yang memiliki pelabuhan samudera, kawasan industri, dan kebijakan hilirisasi akan tumbuh lebih cepat, sehingga kesenjangan PDRB dan PDRB per kapita dengan Jambi semakin melebar.

Baca juga:  Ancaman Ekologi dan Narkoba, Lubang Jarum PETI Limbur Lubuk Mengkuang Butuh Ketegasan Aparat 

Dalam kerangka daya saing regional Sumatera, Jambi akan terus berada di ujung rantai nilai.

Nilai tambah terbesar, lapangan kerja industri berproduktivitas tinggi, aktivitas logistik, jasa keuangan, dan pengendalian harga akan tetap berada di luar wilayah Jambi. Implikasi jangka panjangnya serius: bonus demografi berisiko tidak termanfaatkan, tenaga kerja terdidik bermigrasi ke luar daerah, dan kapasitas fiskal daerah tetap rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.

Artinya, selama Jambi tidak memiliki pelabuhan samudera dan kawasan industri hilir yang terintegrasi, selama itu pula Jambi akan bertahan dalam peran struktural sebagai daerah hinterland. Dalam ekonomi wilayah, hinterland adalah daerah penyangga yang memasok bahan mentah, energi, lahan, dan tenaga kerja bagi pusat pertumbuhan di luar wilayahnya. Ia memproduksi, tetapi tidak mengendalikan rantai pasok dan tidak menikmati nilai tambah utama.

Baca juga:  Di Balik Harga Mahal Sistem Pertahanan: Investasi R&D yang Menentukan Nasib Bangsa

Kesimpulannya, dalam ekonomi wilayah, posisi menentukan nasib. Tanpa lompatan infrastruktur strategis dan industrialisasi, masa depan ekonomi Jambi hingga 2045 bukanlah masa depan yang runtuh, tetapi masa depan yang dibatasi, tumbuh secara statistik, bergerak secara ekonomi, namun tidak pernah benar-benar meloncat.

Penulis Merupakan Pengamat Kebijakan Publik