
BGN juga menegaskan bahwa program ini tidak memberlakukan standar menu nasional, melainkan standar komposisi gizi, sehingga menu dapat disesuaikan dengan potensi dan kearifan lokal.
“Menu disusun oleh ahli gizi setempat dengan mempertimbangkan bahan pangan lokal dan selera masyarakat. Saya harap Jambi bisa menggali kearifan lokalnya dan menjadikannya ciri khas SPPG,” tambah Dadan.
Untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan program, Dadan menitipkan pesan kepada pemerintah daerah, aparat penegak hukum, BPKP, dan BPOM agar bersama-sama mengawasi kualitas bahan baku serta penerapan standar operasional prosedur.
Dengan skala program yang terus berkembang dan dukungan lintas sektor, SPPG diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi berbasis desa sekaligus fondasi kuat dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, mandiri, dan berdaya saing.



Tinggalkan Balasan