ESALP berkembang seiring dengan meningkatnya aktivitas pariwisata di suatu destinasi. Perjalanan dan kegiatan wisata telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari di banyak negara. Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah orang yang melakukan perjalanan ke luar negeri meningkat secara signifikan, dan WTO memproyeksikan angka tersebut akan terus bertambah.

Keterkaitan antara pariwisata dan ESKA telah menjadi perhatian dunia internasional. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian wisatawan yang terlibat dalam ESKA berasal dari negara-negara maju di Eropa Barat, Amerika Utara, Asia, Oseania, dan Timur Tengah, yang berkunjung ke negara-negara dengan tingkat ekonomi lebih rendah di Asia, Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin, dan Karibia.

Masalah ini bersifat regional. Sebagai contoh, wisatawan dari Jepang berkunjung ke Thailand dan Indonesia dengan tujuan seks, atau wisatawan dari Kanada dan Amerika Serikat berkunjung ke Meksiko dan Karibia. Di berbagai kawasan, juga ditemukan individu-individu yang terlibat ESKA dalam perjalanan ke negara tetangga atau bahkan di negaranya sendiri. Singkatnya, ESKA dapat terjadi di mana saja selama terdapat peluang untuk itu.

Baca juga:  Komjen Rachmad Wibowo: Kepemimpinan Visioner di Tengah Ketidakpastian, Saatnya ke Kursi Wakapolri

Mengapa ESALP Terjadi?

Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya ESALP, antara lain kesenjangan ekonomi dan pesatnya pertumbuhan mobilitas manusia dalam empat puluh tahun terakhir. Pariwisata diakui sebagai industri terbesar di dunia dalam penciptaan lapangan kerja dan penerimaan devisa. Di banyak negara, sektor ini dipandang sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. Namun, tanpa perencanaan yang matang dan pembangunan yang terkendali, potensi ekonomi pariwisata justru dapat membuka peluang terjadinya eksploitasi di tingkat lokal.

Pada masa lalu, beberapa negara bahkan memandang wisata seks—termasuk eksploitasi seksual anak—sebagai bagian dari strategi pembangunan pariwisata. Saat ini, semakin banyak pemerintah yang menyadari bahwa praktik tersebut merusak citra bangsa, sehingga berbagai upaya dilakukan untuk menghapus citra negatif yang telah melekat.

Baca juga:  Bansos Menjelang Pemilu: Bantuan atau Strategi Politik?

Faktor-faktor pendukung lainnya meliputi anonimitas wisatawan, kesalahpahaman budaya, pembenaran moral dengan alasan membantu kaum miskin, rasa superioritas, serta kekeliruan persepsi terkait risiko penyakit menular seksual.

Peran Pemerintah dan Industri Pariwisata

Pemerintah dan industri pariwisata memiliki peran penting dalam pencegahan dan pemberantasan ESKA dan ESALP melalui kebijakan hukum, pendidikan, penegakan hukum, penelitian, serta kerja sama lintas sektor dan internasional. Pelaku usaha pariwisata—mulai dari tour operator, biro perjalanan, hingga hotel—perlu menerapkan etika bisnis yang bertanggung jawab, melatih staf, memberikan edukasi kepada wisatawan, serta bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan lembaga swadaya masyarakat.

Penutup

Sebagai penutup, perlu ditegaskan bahwa industri pariwisata bukanlah penyebab utama maraknya ESKA. Namun demikian, fasilitas dan jasa pariwisata kerap dimanfaatkan sebagai sarana terjadinya kejahatan tersebut. Oleh karena itu, industri pariwisata memiliki posisi strategis untuk berperan aktif dalam pencegahan dan pemberantasan ESALP.

Baca juga:  Memperingati Hari Lahir Bung Karno: Menghidupkan Kembali Semangat Nasionalisme

Pemerintah pusat dan daerah, pelaku industri pariwisata, LSM, masyarakat setempat, serta wisatawan itu sendiri memiliki tanggung jawab bersama dalam memerangi Eksploitasi Seksual Anak di Lingkungan Pariwisata (ESALP) dan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA).

Sebagai anggota UNWTO, Indonesia turut prihatin atas maraknya ESALP dan berkewajiban untuk memerangi praktik ini, baik dari sudut pandang norma sosial, hukum, maupun agama. Melalui tulisan sederhana ini, penulis menghimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kesadaran dan memahami pentingnya melindungi anak dari segala bentuk eksploitasi seksual. Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Aamiin YRA. (*)