Hadir dalam audiensi tersebut, Frimus W. Nababan, Ketua DPP Bidang Pembangunan Daerah dan Desa Tertinggal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Dalam pernyataannya, Frimus menekankan bahwa pelestarian budaya seperti Ulos harus dimulai dari akar rumput, yakni melalui pemberdayaan para perajin tenun yang mayoritas berada di wilayah pedesaan Sumatera Utara.

Frimus secara khusus mengajak pemerintah untuk membangun kolaborasi nyata dengan GMNI dalam memperkuat ekonomi desa melalui program “Desa Binaan”. Ia menilai sinergi antara aktivis mahasiswa dan pemerintah dapat menjadi motor penggerak untuk mendampingi para perajin Ulos di daerah tertinggal agar produk mereka memiliki daya saing global tanpa meninggalkan kearifan lokal.

“Kami di GMNI siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk turun langsung ke desa-desa melalui program Desa Binaan. Fokus kami adalah memastikan para perajin Ulos di pelosok mendapatkan pendampingan berkelanjutan, akses modal, dan literasi digital agar narasi budaya ini sejalan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi warga desa,” ujar Frimus W. Nababan di hadapan Wapres.

Baca juga:  Presiden Prabowo Jadi Tamu Kehormatan Bastille Day: Tradisi Diplomatik Prancis Bagi Pemimpin Dunia

Menutup audiensi, Wakil Presiden mengapresiasi semangat kolaboratif yang ditawarkan oleh elemen mahasiswa. Pertemuan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk mengawal agenda Hari Ulos Nasional dan pengakuan UNESCO sebagai prioritas bersama demi menjaga eksistensi budaya Indonesia di masa depan. (*)