Program ini dikembangkan sebagai respons terhadap menurunnya populasi lebah serta degradasi ekosistem yang berdampak pada ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
Melalui pendekatan terintegrasi—mulai dari budidaya lebah sebagai bioindikator lingkungan, revegetasi, edukasi masyarakat, hingga pembentukan koperasi madu—program ini kini mampu menghasilkan 150 hingga 250 kilogram madu per bulan.
Inisiatif tersebut tidak hanya berkontribusi pada pemulihan ekosistem, tetapi juga menciptakan sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat desa.
Ajang tahun ini mengangkat tema “AI, Energy & Transition: Resetting ESG in a New Economy”, yang menyoroti pentingnya peran teknologi dalam transformasi praktik ESG global.
Dalam penutupan acara, Matthias Gelber dari Dorod Sdn Bhd menegaskan bahwa setiap individu dan organisasi memiliki peran sebagai force of good dalam menjaga keberlanjutan bumi melalui kolaborasi lintas sektor.
Sementara itu, Manager CID Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menyatakan bahwa penghargaan ini menjadi validasi atas pendekatan pemberdayaan yang berakar pada kebutuhan nyata masyarakat.
“Kami percaya, keberhasilan ESG tidak hanya diukur dari program yang dijalankan, tetapi dari perubahan hidup yang dihasilkan. Ke depan, kami akan terus memperkuat kolaborasi dan menghadirkan inovasi sosial yang relevan,” ujarnya.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa strategi pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PHR Zona 1 tidak hanya adaptif terhadap dinamika global, tetapi juga konsisten menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap inisiatif pembangunan.
Sebagai bagian dari PT Pertamina (Persero), PHR terus mengelola wilayah kerja hulu migas di Sumatera secara bertanggung jawab dengan komitmen menghadirkan operasi yang selamat, andal, dan berkelanjutan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan. (*)





Tinggalkan Balasan