Kebutuhan tersebut diperkirakan meningkat seiring rencana implementasi program campuran biodiesel B50 dalam waktu dekat.

Secara teknis, fasilitas yang dibangun di Sei Mangkei mencakup industri pangan dan energi dalam satu kawasan terpadu. Di tempat terpisah, Direktur PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menjelaskan bahwa pabrik oleofood akan memproduksi margarin dan shortening dengan kapasitas 35.000 ton per tahun serta cocoa butter substitute sekitar 25.000 ton per tahun.

Selain itu, pabrik biodiesel berkapasitas 450.000 ton per tahun juga tengah dibangun dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada 2028.

Menurut Jatmiko, pengolahan produk sawit di dalam negeri mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan dibandingkan penjualan bahan mentah.

Baca juga:  Hutama Karya Berikan Diskon Tarif Tol 30 Persen di JTTS Selama Mudik Lebaran 2026, Simak Selengkapnya

“Jika diolah, nilai ekonominya bisa meningkat hingga belasan kali lipat,” katanya.

Sementara itu, Bupati Simalungun, Anton Achmad Saragih, menyambut positif pembangunan tersebut. Ia menilai proyek hilirisasi dapat mendorong transformasi ekonomi daerah sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

“Hilirisasi tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga mengubah struktur ekonomi dari hulu ke hilir yang lebih modern,” ujarnya.

Dengan dimulainya proyek-proyek tersebut, pemerintah berharap hilirisasi tidak sekadar menjadi program industrialisasi, tetapi juga menjadi fondasi bagi kedaulatan energi dan penguatan ekonomi nasional dalam jangka panjang. (*)