“Kita perlu sadar bahwa narasi yang memecah belah itu tidak selalu datang dari luar. Kadang ia tumbuh dari dalam, dari ego yang tidak terkelola, dari ambisi yang tidak terkendali, dari kompetisi antar organisasi yang tidak lagi berorientasi pada rakyat. Musuh gerakan mahasiswa yang paling berbahaya adalah perpecahan dari dalam,” kata Reza.

Reza juga menegaskan bahwa keragaman metode perjuangan baik melalui dialog, kajian akademik, audiensi, maupun demonstrasi seharusnya dipandang sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Ekosistem gerakan mahasiswa yang sehat justru membutuhkan ragam pendekatan yang saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

“Biarkan yang kuat dalam kajian mengawal kebijakan dari ruang diskusi. Biarkan yang kuat dalam mobilisasi mengawal dari jalanan ketika memang sudah saatnya. Yang penting, kita bergerak ke arah yang sama: kepentingan masyarakat Sumatera Barat. Bukan kepentingan siapapun yang ada di belakang kita,” ujarnya lugas.

Baca juga:  Di Demo Masyarakat Soal Pelanggaran Kampanye HAR, Bawaslu Janji Selesaikan dalam 2 Hari

Sebagai penutup, Reza menyerukan agar seluruh organisasi mahasiswa di Kota Padang, tanpa terkecuali, untuk mengedepankan komunikasi antar organisasi sebelum mengambil langkah-langkah yang berpotensi memperkeruh suasana. Persatuan, menurutnya, bukan berarti seragam dalam sikap tetapi seiya dalam semangat menjaga martabat gerakan mahasiswa.

“Mari kita kembalikan diskusi ini ke tempatnya yang seharusnya bukan di media sosial yang penuh dengan emosi, bukan di jalanan yang panas dengan amarah, tapi di ruang-ruang intelektual di mana akal sehat kita masih bisa bekerja dengan jernih. Kita semua mahasiswa. Kita semua punya tanggung jawab yang sama terhadap bangsa ini,” pungkasnya. (*)