Manager Community Involvement & Development Regional 1, Iwan Ridwan Faizal mengatakan, keputusan mengembangkan metode batik eco-print didasarkan pada hasil monitoring dan evaluasi mendalam yang menekankan pentingnya kemandirian program pasca-pendampingan. Selain proses produksinya yang aman karena menyesuaikan dengan kapabilitas fisik lansia, kerajinan kontemporer ini memanfaatkan pewarna dan cetakan alami dari tanaman lokal, menjadikannya produk bernilai jual tinggi dengan histori produk yang unik.
“Kami melihat potensi besar dari kelompok lansia jika diberikan ruang aktualisasi yang tepat. Pelatihan eco-print ini memadukan konsep terapi kesehatan kognitif dengan pemberdayaan ekonomi kreatif hijau. Kami berharap program ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup para lansia secara mandiri, tetapi juga melahirkan produk unggulan lokal berbasis keberlanjutan lingkungan yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” jelas Iwan.
Pelatihan intensif yang berlangsung pada 13–16 Juli 2026 di Kantor Desa Kota Karang ini melibatkan empat anggota inti Kelompok Lansiapreneur Kamboja dengan didampingi tiga kader lansia desa. Jalannya pelatihan difasilitasi penuh kelompok dosen sekaligus praktisi usaha batik eco-print berpengalaman dari Universitas Muhammadiyah Jambi.
Rangkaian pelatihan disusun secara komprehensif mencakup teori dasar, histori perkembangan eco-print, hingga teknik pemrosesan kain (scouring dan mordanting) guna memastikan kualitas penyerapan pigmen daun alami secara optimal. Para peserta juga mempraktikkan langsung teknik pengikatan, pengukusan (steaming), hingga tahap finishing. Dari sisi keberlanjutan bisnis, para lansia turut dibekali kompetensi manajemen usaha praktis, seperti perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) sederhana, teknik pengemasan ramah lingkungan, serta proyeksi pengembangan produk turunan bernilai tambah.
Sejumlah riset ilmiah terkini turut memperkuat landasan program ini, di mana aktivitas terapi seni (art therapy) terbukti memberikan stimulasi positif yang signifikan dalam menjaga fungsi kognitif lansia, meminimalisasi perasaan depresi, serta memperkuat kemampuan proprioseptif fisik. Dengan demikian, kegiatan produksi ini berfungsi ganda sebagai sarana menjaga kesehatan mental sekaligus motor penggerak ekonomi kelompok lansia. Selain itu, program lainnya yang dijalankan setiap satu bulan sekali antara lain cek kesehatan rutin, meliputi cek tekanan darah, asam urat, kolesterol dan gula darah.
Melalui kolaborasi strategis antara korporasi, akademisi, dan pemerintah desa, inovasi pemberdayaan lansia ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi lahirnya ekosistem masyarakat inklusif di daerah operasi. Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa transisi menuju ekonomi hijau dapat dimulai dari lini masyarakat terkecil, dengan melibatkan kelompok yang sebelumnya dianggap tidak lagi produktif menjadi motor penggerak ekonomi baru yang mandiri. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan