TANYAFAKTA.CO, JAKARTA – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sonny T. Danaparamita, bergerak cepat merespons anjloknya harga telur yang semakin menekan peternak rakyat di sejumlah sentra produksi Jawa Timur.

Pada Selasa (23/6/2026), Sonny melakukan koordinasi intensif dengan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda, guna mencari solusi konkret atas krisis harga yang kini mengancam keberlangsungan usaha peternak mandiri.

Langkah tersebut diambil setelah Sonny menerima berbagai aspirasi dari peternak ayam petelur di daerah pemilihannya, Jawa Timur III (Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso), sekaligus mencermati perkembangan harga telur di sejumlah sentra produksi Jawa Timur yang terus mengalami penurunan.

Baca juga:  Wakil Ketua DPRD Kota Jambi Muhammad Yasir Ucapkan Selamat Idul Adha 1447 H dan HUT ke-625 Kota Jambi

Di Blitar, harga telur farm pada Senin (22/6/2026) sore tercatat turun menjadi Rp19.500 per kilogram, sementara di wilayah Pare, Kabupaten Kediri, harga berkisar Rp18.500 hingga Rp19.000 per kilogram. Padahal, pada awal Juni lalu harga telur masih berada di kisaran Rp21.000 per kilogram. Penurunan hingga Rp2.500 per kilogram dalam waktu kurang dari satu bulan semakin mempersempit margin usaha peternak yang juga menghadapi tingginya harga pakan ternak.

Sebelumnya, perwakilan peternak ayam petelur Blitar Raya, Kediri, Tulungagung, dan Trenggalek, Suyanto, telah mengingatkan bahwa harga telur yang terus merosot membuat peternak rakyat berada dalam kondisi yang semakin sulit.

“Kami mewakili peternak di Kediri, Tulungagung, Trenggalek terkait harga telur yang semakin mblodot, sementara harga pakan ternak semakin melambung tinggi,” ujarnya saat menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Blitar pada 1 Juni 2026.

Baca juga:  Isu Diduga Dipelintir, Syaifullah Tegaskan Rp65 Juta Bukan Utang Anggota Dewan Tetapi Oknum ASN Sekretariat DPRD Muaro Jambi

Kondisi serupa juga dikeluhkan peternak di Banyuwangi. Asosiasi Peternak Unggas Maju Makmur Banyuwangi menyampaikan kepada Rumah Aspirasi Genteng bahwa Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram belum berjalan efektif di lapangan.

Mereka juga mengeluhkan adanya pembelian telur oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan harga sekitar Rp20.000 per kilogram disertai sistem pembayaran tempo satu minggu. Menurut para peternak, kondisi tersebut membuat peternak mandiri harus menanggung kerugian operasional hingga sekitar Rp3,5 juta per bulan, terutama akibat tingginya biaya pakan pabrikan.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Sonny menegaskan pemerintah harus segera mengambil langkah nyata agar peternak rakyat tidak menjadi korban berkepanjangan dari lemahnya implementasi kebijakan harga.

Baca juga:  Gubernur Al Haris Harap Revisi UU Sisdiknas Berpihak kepada Guru