Lebih lanjut, ia juga memberikan sejumlah masukan agar sistem dapat terus dikembangkan secara optimal.

“Dari yang saya lihat, tampilannya sangat baik dan tidak ada masalah. Tapi saya memberikan masukan, harus orang yang sudah memiliki pengalaman menggunakan sistem ini. Dengan menggunakan sistem ini kita baru bisa melihat apa yang kurang, apa yang menjadi problematic, dan bagaimana mengatasinya,” tambahnya.

Sementara itu, Rio Yusri Maulana, Ph.D, dari Universitas Jambi, menjelaskan alasan memilih JDAC sebagai objek penelitian, yaitu karena dinilai sebagai unit transformasi digital yang unik.

“Saya bersama Bu Yenni sudah kontak cukup lama sejak 2023 dan kita sudah kolaborasi cukup panjang, dan riset kita itu harus memiliki locus dan fokus riset yang memang menyasar pada aspek khusus terkait dengan transformasi digital, maka kami didukung sangat baik dari Pak Kepala Dinas dan tim,” ujar Rio.

Baca juga:  Wagub Jambi Abdullah Sani Ajak Umat Islam Teladani Ulama dalam Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani

Ia menambahkan, “Jadi memang JDAC ini adalah suatu unit transformasi digital yang sangat unik menurut saya. Karena memang kami melakukan riset misalnya di Jabar Digital Service di Jawa Barat, kemudian di Jakarta, Smart City di Jakarta. Dan untuk basis pemerintahan daerah yang mungkin dengan kapasitas keuangan, kapasitas sumber daya manusia yang tidak seperti provinsi besar itu, saya pikir Jambi sudah cukup baik karena banyak provinsi yang kemudian tidak cukup concern terkait dengan data internal probability, terutama untuk provide bagaimana keputusan itu berbasis data,” pungkasnya.(*)