Dia mengungkapkan insiden ini diakibatkan hanya karena adanya miskomunikasi soal fungsi bangunan.

“Kami sudah duduk bersama dan mencari solusi damai,” ujar Fadly.

Pendeta F. Dachi, gembala jemaat GKSI Anugerah Padang, mengungkapkan bahwa sekelompok warga yang tergabung dalam lingkungan RT dan RW setempat mendatangi lokasi dan secara tiba-tiba membubarkan kegiatan tersebut.

“Ketua RT dan RW awalnya memanggil saya ke belakang rumah. Tiba-tiba massa berteriak ‘bubarkan, bubarkan!’ lalu mulai melempari rumah. Kaca pecah, peralatan dihancurkan, listrik diputus,” ujar Dachi.

Pendeta Dachi menegaskan bahwa bangunan tersebut bukan gereja, melainkan rumah sewaan yang difungsikan sebagai tempat pendidikan agama bagi anak-anak jemaat yang kesulitan mengakses gereja di pusat kota.

Baca juga:  Usai Kunjungan Kerja di Jawa Tengah, Presiden Prabowo Bertolak ke Jakarta

“Selama tiga tahun ini kami berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Baru tiga bulan terakhir kami menyewa rumah ini sebagai tempat belajar. Anak-anak butuh nilai agama, dan kami hanya membantu,” tuturnya.

Sebagian warga menganggap rumah tempat pendidikan agama bagi anak-anak kristen yang kita bina ini adalah gereja. Padahal bukan,” tambahnya.

Insiden ini menuai reaksi dari sejumlah organisasi masyarakat, salah satunya Persekutuan Gereja Indonesia (PGI).

Dalam keterangan tertulis yang diterima TanyaFakta.co Ketua Umum PGI, Pdt. Jacky Manuputty mengecam keras insiden tersebut dan mengungkapkan hal ini terjadi karena sikap intoleransi masih mengakar di berbagai sudut negeri.

“Tindakan tersebut sangat menyesakkan. Aksi teror disertai kekerasan dilakukan untuk menghentikan kegiatan pelayanan kerohanian di depan anak-anak, tentunya akan menimbulkan trauma berkepanjangan dalam pertumbuhan mereka,” tegasnya.

Baca juga:  Presiden Putin Tegaskan Pentingnya Peran Indonesia di Kancah Global dan dalam BRICS

Menurutnya, insiden tersebut bukan hanya menyakitkan, tetapi jugaberbahaya. Perilaku intoleran adalah racun yang menggerogoti keutuhan bangsa.

“Karenanya negara harus hadir untuk menggaransi hak konstitusi setiap warga negara dan kelompok identitas untuk merayakan keberagamannya, termasuk menjalankan ibadahnya,” tegasnya.

Sebab itu, PGI mengecam dengan keras segala bentuk intoleransi yang terjadi di negeri ini!

“Kita tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ini hanyalah insiden kecil akibat kesalahpahaman dan sebagainya. Setiap tindakan intoleran adalah ancaman nyata terhadap semangat Bhinneka Tunggal Ika, terhadap cita-cita kemerdekaan, dan terhadap hak asasi manusia,” kata Pdt. Jacky. (Aas)