Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP
TANYAFAKTA.CO – Pasar bukan sekadar ruang transaksi, melainkan denyut nadi kehidupan sosial dan ekonomi rakyat. Namun, revitalisasi yang semestinya menjadi jalan untuk menghidupkan denyut itu kerap berubah menjadi proyek setengah hati yang justru mematikan kehidupan pasar. Kita bisa belajar dari banyak kasus kegagalan revitalisasi di sejumlah daerah, pasar yang dibangun megah tetapi kehilangan pembeli, pedagang tersingkir karena biaya kios yang tak terjangkau, hingga ruang interaksi sosial yang hilang. Alih-alih menyejahterakan rakyat kecil, proyek itu malah menjauhkan pasar dari ruhnya sebagai pusat perputaran ekonomi masyarakat. Pertanyaan pun mencuat: apakah revitalisasi Pasar TAC benar-benar realistis dan efektif, atau hanya akan menambah daftar panjang kegagalan revitalisasi pasar di negeri ini?
Pertanyaan tentang masa depan Pasar TAC bukan hanya soal menghidupkan kembali kios-kios yang kosong, melainkan soal bagaimana pasar tradisional bisa bertahan di tengah derasnya arus perubahan zaman. Di Kota Jambi, Pasar TAC yang pernah dielu-elukan sebagai pasar sehat kini justru tampak muram. Bukan karena kehilangan lokasi strategis, melainkan karena kehilangan daya tarik di hati pembeli.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jambi 2023 menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor perdagangan besar dan eceran hanya naik 2,31 persen, lebih lambat dibanding sektor informasi dan komunikasi yang melesat 7,02 persen (BPS Kota Jambi, 2023). Angka ini menandakan satu hal, kebiasaan belanja masyarakat beralih. Masyarakat Jambi kini lebih nyaman mengakses produk lewat ritel modern dan platform digital.
Pandemi COVID-19 mempercepat transformasi ini. Laporan Bank Indonesia Perwakilan Jambi (2022) mencatat transaksi digital meningkat lebih dari 40 persen selama masa pandemi. Pasar TAC, yang mengandalkan keramaian tatap muka, langsung terpukul. Pedagang kehilangan omzet, pembeli enggan datang, dan pasar kehilangan atmosfernya sebagai pusat interaksi sosial.
Pemerintah Kota Jambi kemudian meluncurkan rencana revitalisasi Pasar TAC. Konsep yang ditawarkan terdengar menjanjikan. Kolaborasi dengan BUMD dan investor swasta, digitalisasi sistem retribusi, perbaikan infrastruktur, serta penguatan citra lewat festival budaya atau ruang kreatif. Namun, pertanyaan krusial tetap menggantung, seberapa realistis gagasan ini diwujudkan?
Di atas kertas, revitalisasi bisa menjadi solusi. Tetapi masalah mendasarnya bukan hanya fisik bangunan, melainkan kebiasaan konsumsi masyarakat. Tanpa lahan parkir yang memadai, pengunjung tetap enggan datang. Tanpa integrasi digital yang serius, Pasar TAC hanya akan jadi replika pasar lama dengan wajah baru.
Contoh dari kota lain sepatutnya jadi cermin. Pasar Santa di Jakarta Selatan pernah nyaris mati suri, tetapi bangkit kembali setelah pemerintah dan komunitas muda menjadikannya ruang kreatif tempat transaksi bertemu budaya dan hiburan. Pasar TAC pun bisa mengambil pelajaran serupa. Pasar tidak cukup hanya diperbaiki, tapi harus diposisikan ulang sebagai ruang hidup yang relevan dengan generasi sekarang.Tanpa itu, revitalisasi berisiko berhenti sebagai proyek seremonial yang sekadar mempercantik tampilan.
Sejarah Pahit: Belajar dari Revitalisasi yang Gagal
Kegagalan revitalisasi bukan sekadar teori, banyak pasar di Indonesia yang dihitung pekerjaan sukses secara fisik, tapi gagal menjaga pasar sebagai ruang hidup:
• Pasar Turi, Surabaya (2007–2015): Setelah dibangun dengan konsep modern, banyak pedagang lama tak mampu bertahan karena harga kios tinggi dan konflik berkepanjangan antara pengembang, pemerintah, dan pedagang. Pasar legendaris itu pun kehilangan denyut ekonominya.
• Pasar Johar, Semarang: Usai kebakaran, pasar dibangun kembali secara megah. Sayangnya biaya sewa kios melonjak sehingga gedung besar tampak sepi, sementara pedagang kecil memilih berjualan di pinggir jalan.
• Pasar Klewer, Solo: Pasca revitalisasi, suasanan pasar batik justru kehilangan atmosfirnya. Pengunjung menurun, interaksi sosial memudar, budaya runtuh di tengah gemerlap fisik.



Tinggalkan Balasan