Kegagalan-kegagalan itu menunjukkan bahwa revitalisasi yang hanya mengutamakan struktur fisik dan estetika ternyata tidak cukup tanpa memperhatikan ruang hidup, biaya, dan kebutuhan pedagang serta pengunjung.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa jumlah pasar tradisional di Indonesia terus menurun, sementara pasar modern meningkat 8–10 persen setiap tahun. Laporan AC Nielsen (2022) bahkan mencatat bahwa konsumen kelas menengah kini cenderung beralih ke minimarket dan supermarket karena kenyamanan dan standar pelayanan yang lebih baik. Fakta ini menegaskan, revitalisasi pasar tradisional yang hanya berorientasi pada infrastruktur semata tidak cukup untuk mengembalikan daya tarik. Namun, di tengah banyaknya contoh kegagalan revitalisasi pasar di Indonesia, Jambi memiliki konteks yang tak kalah penting untuk ditinjau. Data menunjukkan peran besar pasar tradisional dalam menopang ekonomi lokal, khususnya di Kota Jambi.

Baca juga:  Catatan Ekonomi Q3 2025: Saat Ekonomi Jambi Bangkit, Investasi Melambat

Peran Sentral Pasar Tradisional di Jambi

* Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB Kota Jambi mencapai 33 % pada 2022. Artinya, sepertiga penggerak ekonomi kota berasal dari sektor ini (https://ruangdata.jambikota.go).

* Jumlah pasar daerah di Jambi tercatat sebanyak 19 unit, 3 di antaranya dikategorikan sebagai pasar sehat, mengindikasikan pentingnya pasar tradisional sebagai infrastruktur ekonomi dan social (https://ruangdata.jambikota.go).

* Pendapatan rata-rata wanita pedagang sayur di Pasar Angso Duo Baru mencapai sekitar Rp 1.54 juta per bulan, sementara pedagang tertentu (seperti penjual sawi, bayam, kangkung) bahkan memperoleh hingga Rp 3.52 juta per bulan, menegaskan pasar sebagai sumber penghidupan rumah tangga yang vital (https://repository.unja.ac.id).

Pasar TAC: Antara Re·vitalisasi dan Reimaginasi

Baca juga:  Haul Bung Karno di Masa Krisis Keteladanan, Saatnya Ziarah Pemikiran

Revitalisasi Pasar TAC jangan berhenti pada rencana perbaikan bangunan dan pengembangan infrastruktur saja. Pasar TAC harus direimajinasikan sebagai ruang hidup yang inklusif, berbudget terjangkau dan ramah bagi semua pelaku ekonomi kecil. Artinya, revitalisasi harus menyentuh aspek keberlanjutan, mulai dari pola manajemen, akses permodalan bagi pedagang, hingga penciptaan atmosfer yang membuat masyarakat nyaman kembali menjadikan pasar sebagai pilihan utama. Tanpa itu semua, pasar hanya akan indah di atas kertas, tetapi kehilangan denyut kehidupan yang sesungguhnya. Untuk mewujudkan keberlanjutan itu, dibutuhkan sinergi yang nyata antara pemerintah, pedagang, dan masyarakat sebagai pengguna utama pasar.

Revitalisasi Pasar TAC bukan semata proyek pemerintah, melainkan panggilan kolektif seluruh warga kota. Pemerintah dituntut konsisten, berani melakukan terobosan dan benar-benar berpihak pada pedagang kecil, sementara masyarakat perlu menumbuhkan kembali kebanggaan berbelanja di pasar rakyat. Jika kolaborasi ini terwujud, Pasar TAC tidak hanya bangkit dari keterpurukan, tetapi juga dapat menjelma menjadi ikon kebangkitan ekonomi kerakyatan Jambi di tengah arus digitalisasi.

Baca juga:  Kegagalan Regulatif dan Inkonsistensi Logika Kebijakan dalam Narasi Pelarangan Tenaga Ahli Gubernur

Pada akhirnya, Pasar TAC bukan sekadar ruang dagang, melainkan representasi identitas kota, jantung ekonomi rakyat sekaligus ruang kebersamaan sosial. Inilah ujian terbesar, apakah Pasar TAC akan berakhir sebagai monumen kegagalan revitalisasi seperti banyak pasar lain di negeri ini atau justru menjadi simbol masa depan ekonomi rakyat yang inklusif, berdaya saing, dan berkeadilan.

Penulis merupakan Akademisi UIN STS Jambi