Ia juga mengingatkan potensi penurunan nilai tanah dan rumah warga akibat keberadaan stokfile dan TUKS.

“Nilai properti bisa jatuh karena lingkungan tidak sehat. Ini jelas kerugian ekonomi yang nyata,” tuturnya.

Lebih jauh, Noviardi menyebut UMKM yang diharapkan hidup dari aktivitas stokfile dan TUKS sifatnya hanya sementara.

“Kalau operasi berhenti atau pindah, UMKM akan mati. Itu bukan ekonomi berkelanjutan,” tegasnya.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, ia menilai klaim keuntungan ekonomi dari stokfile dan TUKS batubara lebih merupakan retorika untuk mencari dukungan publik.

“Yang paling untung adalah perusahaan, sedangkan masyarakat menanggung dampak buruknya,” pungkas Noviardi. (*)

Baca juga:  Kemenangan Awal Warga Aur Kenali, Pertarungan Sesungguhnya Baru Dimulai