TANYAFAKTA.CO, KOTA JAMBI – Baru-baru ini beredar berita tendensius mengenai insiden meninggalnya bayi dalam kandungan pasien NP pasca dilakukan penyuntikan obat alergi di RSIA Annisa.

Merasa ada hal yang harus diluruskan karena pemberitaan yang beredar tidak sesuai dengan kenyataan, pihak RSIA Annisa melakukan konferensi pers pada Sabtu,(4/10/2025).

“Pada saat pasien datang ke RSIA, saya yang melakukan pemeriksaan. Hasilnya tidak ditemukan tanda-tanda kejanggalan. Tekanan darah dan tanda vitalnya normal, tidak ada keluhan kehamilan, tidak ada flek atau kontraksi. Pemeriksaan dalam tidak dilakukan karena belum waktunya,” jelas dr. Edwiq Restu Andillah, dokter umum yang pertama kali menangani pasien.

dr. Edwiq juga menegaskan bahwa tudingan adanya kesalahan pemberian obat tidak benar.

“Saya memberikan penanganan sesuai prosedur, dan obat yang digunakan termasuk kategori B, aman untuk ibu hamil,” tegasnya.

Sementara itu, pada Rabu (1/10/2025), pasien kembali melakukan pemeriksaan ke dr. Zul Andriahta, Sp.OG, dokter kandungan yang juga bertugas di RSIA Annisa.

Baca juga:  Minum Air Putih: Kebiasaan Sederhana dengan Manfaat Besar bagi Kesehatan

“Pasien datang ke klinik saya untuk konsultasi alergi yang sebelumnya telah diberikan penanganan di RSIA Annisa. Saya jelaskan bahwa alergi bisa terjadi pada siapa saja, terutama jika baru pertama kali mengonsumsi makanan tertentu,” ujarnya.

Namun saat pemeriksaan USG dilakukan, dr. Zul mendapati detak jantung janin sudah tidak ada.

“Artinya janin sudah meninggal dalam kandungan,” katanya.

dr. Zul menjelaskan, penyebab kematian janin tidak bisa disimpulkan secara sederhana.

“Bisa jadi faktor dari ibu, plasenta, atau tali pusar janin,” ungkapnya.

Setelah itu, pasien segera dirujuk kembali ke RSIA Annisa untuk proses persalinan.

“Saat proses persalinan, kami menemukan tali pusar sepanjang 10–15 cm berwarna kehitaman. Itu menunjukkan adanya pilinan pada tali pusar. Dugaan kami, hal tersebut menjadi penyebab kematian janin,” paparnya.

Menurutnya, kondisi kulit bayi yang mengelupas juga menandakan bahwa janin telah meninggal 2–3 hari sebelum persalinan.

Baca juga:  Soroti Investigasi Kasus Meninggalnya Dokter Magang di Kuala Tungkal, Ini Saran Ombudsman

“Dugaan penyebab kematian bisa karena tali pusar terpilin, atau karena faktor diabetes mellitus (DM) yang dimiliki ibu,” tambah dr. Zul.

Terkait keinginan keluarga pasien untuk membawa kasus ini ke ranah hukum, Direktur RSIA Annisa, dr. Ade Pintor, MARS, menyatakan pihaknya belum mengambil langkah apapun.

“Pemberitaan yang tendensius sangat merugikan nama baik RSIA Annisa. Kami sudah menjelaskan secara keilmuan kepada pasien, melakukan pemeriksaan sesuai prosedur, dan tidak melanggar kode etik,” tegasnya.

Ia juga menepis isu yang mengaitkan RSIA Annisa dengan Wali Kota Jambi.

“RSIA Annisa memiliki manajemen sendiri dan tidak ada kaitannya dengan Wali Kota Jambi. Sejak beliau menjabat sebagai pejabat publik, tidak ada campur tangan dalam urusan rumah sakit. Segala tanggung jawab sepenuhnya ada pada manajemen RS,” pungkasnya.

Rincian Hasil Pemeriksaan Pasien NP

Baca juga:  Mengapa Urat di Wajah Terlihat? Ini Penyebabnya

Pasien NP, ibu hamil 36–37 minggu (G1P0A0), datang pada Senin (29/9/2025) sekitar pukul 21.40 WIB dengan keluhan gatal dan bentol di seluruh tubuh setelah mengonsumsi ikan laut. Berdasarkan keterangan orang tua pasien, yang bersangkutan memiliki riwayat alergi makanan laut. Tidak ditemukan kontraksi maupun perdarahan.

Hasil pemeriksaan fisik:

Berat badan: 88,59 kg

Tinggi badan: 145 cm

Tekanan darah: 118/80 mmHg

Nadi: 89 x/menit

Respirasi: 24 x/menit

Suhu: 36°C

SpO₂: 98% (tanpa oksigen)

TFU: 32 cm

DJJ: 146 x/menit

Diagnosis: Hamil 36–37 minggu intrauterin dengan urtikaria. Tidak ditemukan tanda kegawatdaruratan obstetri.

Tindakan medis:

Pemberian oksigen 2 lpm

Injeksi diphenhydramine 30 mg (kategori B yang berarti aman untuk ibu hamil)

Observasi 40 menit, hasil stabil:

SpO₂ 99–100%

Nadi 84 x/menit

TD 117/81 mmHg

DJJ 155 x/menit

Pasien diperbolehkan pulang dengan obat cetirizine 10 mg sekali sehari. (AAS)