Ironisnya, Aris mengungkapkan bahwa warga tetap diwajibkan membayar tagihan PDAM secara rutin. Bahkan, biaya yang dibayarkan dinilainya cukup mahal, namun tidak sebanding dengan pelayanan yang diterima.
“Padahal kami rutin bayar, dan itu sudah tergolong mahal. Tapi pelayanannya sangat tidak memuaskan,” tegasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Pebri, seorang mahasiswa yang ngekos di RT 11, Mendalo Darat. Ia mengatakan, kos tempat tinggalnya sepenuhnya bergantung pada pasokan air dari PDAM. Akibat air mati, seluruh penghuni kos terpaksa mencari alternatif lain demi memenuhi kebutuhan dasar.
“Air di kosan kami cuma mengandalkan PDAM. Karena mati, saya terpaksa ke kosan kawan di daerah Simpang Rimbo hanya untuk mandi dan buang air, itu sangat menyusahkan,” ungkap Pebri.
Pebri yang sehari-hari juga bekerja sebagai pengemudi ojek online mengaku sangat dirugikan. Waktu dan tenaganya tersita hanya untuk mencari air, sementara aktivitas mencari nafkah ikut terganggu.
“Saya narik ojek online setiap hari. Tapi dengan kondisi seperti ini, jelas sangat merugikan. Harus mutar otak hanya untuk urusan mandi dan buang air,” pungkasnya. (AAS)



Tinggalkan Balasan