Melalui pendampingan dalam program PSR, petani difasilitasi untuk mendapatkan akses dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sawit guna meremajakan kebun mereka dengan bibit unggul bersertifikat.
“Transformasi perkebunan sawit rakyat adalah kunci mutlak untuk menjaga daya saing industri sawit Indonesia di pasar global. Kami di PalmCo tidak hanya fokus membantu proses percepatan administrasi Rekomtek hingga dana cair. Tanggung jawab kami lebih jauh dari itu, yakni mengawal implementasi Good Agricultural Practices (GAP) di lapangan,” tegas Jatmiko.
Dengan penerapan GAP yang disiplin, Jatmiko meyakini produktivitas kebun rakyat akan meningkat tajam, yang pada muaranya akan mendongkrak tingkat kesejahteraan para petani secara signifikan.
Strategi ‘Jemput Bola’ dan Kolaborasi
Keberhasilan melampaui target di awal tahun ini tidak lepas dari strategi jemput bola yang diterapkan manajemen. Tim PTPN IV PalmCo secara proaktif turun ke sentra-sentra sawit rakyat untuk melakukan sosialisasi dan pendampingan pemberkasan, sebuah proses yang seringkali menjadi kendala utama bagi petani swadaya.
Selain itu, kolaborasi multi-pihak yang solid menjadi tulang punggung keberhasilan program ini. PalmCo terus memperkuat sinergi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, BPDP, Pemerintah Daerah tingkat Provinsi hingga Kabupaten, aparatur penegak hukum, serta berbagai asosiasi petani kelapa sawit.
Menatap sisa tahun 2026, PTPN IV PalmCo optimis dapat mempertahankan momentum percepatan ini. Keberhasilan program PSR tidak hanya krusial untuk mengamankan pasokan bahan baku Crude Palm Oil (CPO) dan minyak goreng nasional, tetapi juga diharapkan mampu memberikan multiplier effect (efek ganda) yang menggerakkan roda perekonomian di kawasan pedesaan. (*)





Tinggalkan Balasan