Oleh : Dr. Nuraida Fitri Habi
TANYAFAKTA.CO, JAMBI – Setiap 2 Mei, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan semboyan Ki Hajar Dewantara yang ikonik. Tapi, pernahkah kita bertanya: apakah pelajaran di sekolah benar-benar membantu kita saat harus memilih pemimpin di bilik suara?
Pendidikan dan demokrasi adalah dua sisi mata uang. Demokrasi tanpa orang terdidik hanya akan menjadi ajang “jual-beli suara”. Sebaliknya, pendidikan tanpa demokrasi hanya akan mencetak robot yang pintar menghafal tapi takut berpendapat.
Berikut adalah tiga cara bagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara seharusnya membentuk pemilih yang cerdas:
1. Belajar Bahwa Pemimpin Bisa Salah (Ing Ngarsa Sung Tuladha)
Di sekolah, guru adalah teladan. Di negara, pejabat adalah contoh. Bedanya, di kelas yang sehat, murid harus berani bertanya jika ada yang janggal.
Jika di sekolah murid selalu dibungkam dan dipaksa menurut, mereka akan tumbuh menjadi warga negara yang takut menegur pemimpin yang korupsi. Kita butuh sekolah yang menjadi “ruang aman” untuk berbeda pendapat. Mengkritik guru dengan sopan bukan berarti tidak hormat, melainkan latihan menjadi warga negara yang kritis.
2. Belajar Bermusyawarah, Bukan Sekadar Ikut-ikutan (Ing Madya Mangun Karsa)
Demokrasi bukan cuma soal mencoblos tiap lima tahun, tapi soal bagaimana kita duduk bersama menyelesaikan masalah.
Saat ini, banyak anak muda vokal di media sosial, tapi bingung saat harus bermusyawarah di dunia nyata. Banyak yang memilih pemimpin hanya karena ikut-ikutan tren atau pilihan orang tua. Mengapa? Karena di sekolah, demokrasi seringkali hanya jadi teori di buku cetak, bukan praktik seperti pemilihan ketua kelas yang jujur atau diskusi kelompok yang sehat.



Tinggalkan Balasan