“Ketika buruh masih digaji di bawah standar, ijazah ditahan, dan anggaran pendidikan dipotong, maka tugas kami adalah bersuara. Cipayung Padang hadir sebagai kekuatan moral yang akan terus mengawal pemenuhan hak-hak rakyat,”tegasnya.
Senada dengan itu Erguna Ketua PMKRI Padang mengungkapkan bahwa kehadiran PMKRI Padang bukan hanya karena tradisi bergerak, tetapi karena kami percaya bahwa keadilan sosial adalah inti dari nilai-nilai kemanusiaan yang kami junjung.
“Guru yang sejahtera akan melahirkan generasi yang kuat. Buruh yang bermartabat akan membangun bangsa yang kokoh. Kami menuntut pemerintah daerah untuk berhenti bersembunyi di balik prosedur dan mulai bertindak nyata,”tuturnya.
Disisi lain Dani, Ketua GMKI Padang mengungkapkan bahwa ada ironi besar ketika negara merayakan Hari Pendidikan Nasional, sementara di saat yang sama anggaran pendidikan tinggi justru dipangkas.
“GMKI Padang menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi peradaban, bukan pos anggaran yang bisa dikorbankan. Kami mendukung penuh perjuangan kawan-kawan buruh dan berkomitmen untuk terus berdiri bersama rakyat,” tegas Dani.
Salah satu buruh, kepada TanyaFakta.co mengatakan bahwa pihaknya sudah terlalu lama bersabar. Upah yang tidak layak, ijazah yang ditahan sebagai alat ancaman, dan pengawas tenaga kerja yang tidak berfungsi — ini bukan masalah kecil, ini perampasan hak.
“Hari ini kami berdiri bersama adik-adik mahasiswa dari Cipayung karena kami sadar perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Kami berterima kasih atas solidaritas ini dan berharap suara kami benar-benar sampai ke meja pengambil kebijakan,” katanya.
Terakhir, Edo Arianto selaku korlap aksi menyatakan bahwa aksi berjalan berjalan tertib, penuh semangat, dan penuh kesadaran.
“Ini membuktikan bahwa mahasiswa dan buruh mampu bersinergi secara dewasa dalam menyuarakan aspirasi. Kami tidak membawa amarah tanpa arah — kami membawa tuntutan yang jelas, argumentasi yang kuat, dan tekad yang tidak akan padam sampai tuntutan ini dijawab,” pungkasnya.
Cipayung Kota Padang menyatakan bahwa aksi ini bukan yang terakhir. Kami akan terus memantau respons pemerintah terhadap tuntutan yang telah disampaikan dan tidak segan untuk kembali turun ke jalan apabila tidak ada langkah konkret yang diambil. Perjuangan ini adalah perjuangan bersama untuk buruh, untuk guru, untuk mahasiswa, dan untuk seluruh rakyat Sumatera Barat. (*)



Tinggalkan Balasan