TANYAFAKTA.CO, JAKARTA – Peringatan Hari Tani Nasional menyoroti kembali peran petani kelapa sawit dalam rantai pasok industri nasional. Di tengah tantangan fluktuasi harga komoditas global dan perlunya peningkatan produktivitas lahan, langkah konkret korporasi dalam mendampingi petani swadaya dan plasma dinilai menjadi salah satu solusi utama.

Salah satu entitas yang tengah mengintensifkan upaya kemitraan ini adalah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo.

Kepala Pusat Studi Sawit IPB University, Prof. Budi Mulyanto, mengingatkan bahwa postur industri sawit nasional saat ini masih sangat bergantung pada kondisi perkebunan rakyat. Hal ini menjadi tantangan mendesak, terutama terkait agenda hilirisasi yang dicanangkan pemerintah.

“Peremajaan sawit ini sangat penting. Saat ini hampir 50 persen sawit Indonesia itu merupakan sawit rakyat dan sebagian besar tanaman sudah tua,” ujar Prof. Budi.

Baca juga:  Tanamkan Budaya #Cari_Aman Sejak Dini, Sinsen Bagikan Helm di Hari Anak Nasional 2026

Ia menegaskan, kondisi tanaman yang menua akan berdampak langsung pada penurunan produktivitas TBS (Tandan Buah Segar) secara nasional.

“Kalau tidak diremajakan, maka bagaimana kita bicara program hilirisasi? Karena produksi menentukan hilirisasi,” tambahnya.

PTPN IV PalmCo sebagai subholding BUMN perkebunan yang terbentuk pada Desember 2023 lalu mengambil posisi tidak hanya sebagai fasilitator peremajaan lahan, tetapi juga sebagai offtaker (penyerap) hasil panen.

Terhitung sejak 2024, 2025 Hingga Agustus 2026, pabrik-pabrik kelapa sawit milik PalmCo mencatat telah menyerap sedikitnya 8,42 juta ton TBS dari kebun sawit rakyat. Penyerapan ini memberikan kepastian pasar bagi petani di tengah dinamika harga industri.