OLEH : DR. NOVIARDI FERZI

TANYAFAKTA.CO, MUARO JAMBI — Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Muaro Jambi yang melambat dari 6,33 persen pada 2024 menjadi 4,50 persen pada 2025 merupakan imbas rapuhnya struktur ekonomi daerah.

Perlambatan tersebut tidak hanya disebabkan oleh menurunnya aktivitas konstruksi, tetapi juga memperlihatkan ketergantungan ekonomi Muaro Jambi pada proyek infrastruktur besar.

Penulis menilai kontraksi sektor konstruksi sebesar 8,54 persen pada 2025 menjadi faktor utama perlambatan. Penurunan ini terjadi setelah sejumlah proyek besar, termasuk Tol Sebapo–Pijoan dan Stadion Swarnabumi, memasuki tahap penyelesaian sehingga belanja pembangunan, permintaan tenaga kerja, serta aktivitas usaha pendukung ikut melemah.

“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama beberapa tahun terakhir sebagian besar ditopang oleh proyek infrastruktur. Ketika proyek tersebut selesai, kontribusinya menurun dan ekonomi daerah kehilangan salah satu penggerak utama,” ujar Noviardi.

Baca juga:  Rakyat Lagi-Lagi Jadi Penyangga Kegagalan Negara

Ia menambahkan bahwa kondisi ini menunjukkan perlunya diversifikasi ekonomi agar pertumbuhan tidak bergantung pada siklus proyek pemerintah.

Tekanan ekonomi masih terlihat pada awal 2026. Pada Triwulan I 2026, ekonomi Muaro Jambi tumbuh 4,87 persen secara tahunan atau year-on-year, lebih tinggi daripada pertumbuhan Provinsi Jambi sebesar 4,33 persen. Namun, dari sisi kuartalan, PDRB Muaro Jambi justru menyusut 5,02 persen dibandingkan Triwulan IV 2025.

Noviardi menilai penurunan kuartalan tersebut menunjukkan bahwa momentum ekonomi daerah masih rapuh. Menurutnya, pertumbuhan tahunan yang positif belum tentu mencerminkan aktivitas ekonomi yang kuat apabila pergerakan kuartalan melemah tajam.

Angka 4,87 persen memang masih positif, tetapi penurunan 5,02 persen secara kuartalan menunjukkan adanya perlambatan aktivitas di awal tahun. Pemerintah tidak boleh berpuas diri hanya karena angka tahunan masih tumbuh.

Baca juga:  Tanggapi The Economist, Pengamat ini Tegaskan Negara Berkembang Memerlukan Stabilitas dan Intervensi Strategis

Dari sisi fiskal, realisasi belanja daerah Muaro Jambi pada Semester I 2026 masih tergolong rendah. Hingga Juni 2026, realisasi belanja daerah baru mencapai Rp410,55 miliar atau 30,91 persen dari pagu awal sebesar Rp1.328,30 miliar.

Penulis menilai serapan belanja yang rendah pada semester pertama dapat memperlemah stimulus ekonomi daerah. Menurutnya, keterlambatan belanja, khususnya belanja barang dan jasa serta belanja modal, berdampak langsung pada perputaran uang, lapangan kerja, dan permintaan barang dari UMKM lokal.