“Saya sangat senang sekali dalam kunjungan kerja ke Jambi bisa berkunjung ke Museum Bioskop yang berada di Tempoa Art Gallery. Saya sangat mengapresiasi keberadaan museum ini, karena sangat jarang masyarakat secara inisiatif mengumpulkan artefak-artefak film langka,” ujar Fadli Zon.
Ia menilai seluruh koleksi yang tersimpan di museum tersebut merupakan bagian penting dari sejarah perfilman Indonesia yang perlu dilestarikan dan didigitalisasi.
“Semua artefak yang ada di museum ini, baik poster-poster langka, film, proyektor, dan semua yang ada di museum ini merupakan saksi dari perjalanan sejarah sineas kita. Harapannya ke depan bisa kita jalin kerja sama sebagai langkah untuk merangkai narasi sinema perfilman kita. Kita digitalisasi supaya bisa menjadi bahan edukasi bagi generasi muda bangsa kita,” tambahnya.
Sementara itu, pengelola Museum Bioskop Tempoa, Rachmadi, mengaku bersyukur atas kunjungan Menteri Kebudayaan dan Gubernur Jambi. Menurutnya, perhatian tersebut menjadi motivasi besar untuk terus menjaga dan mengembangkan museum.
“Kami sangat mengucapkan terima kasih atas kunjungan Pak Menteri Kebudayaan. Keberadaan museum ini merupakan upaya kecil kami dalam menjaga seni dan budaya, terutama di bidang film,” ungkapnya.
Museum Bioskop Tempoa merupakan bangunan bekas bioskop VIP milik keluarga Arwin Lie yang kini dialihfungsikan menjadi museum. Di dalamnya tersimpan sekitar 1.180 poster film asli dari Indonesia, India, Mandarin, hingga Hollywood, tiga generasi proyektor film, kursi bioskop, loket dan tiket bioskop, pita film, lampu antik, serta berbagai koleksi perfilman lainnya.
Selain menjadi destinasi wisata sejarah, Museum Bioskop Tempoa juga kerap dimanfaatkan sebagai ruang diskusi budaya, pameran, dan pelatihan menulis, sehingga menjadi salah satu pusat kegiatan seni dan budaya di Kota Jambi. (AAS)




Tinggalkan Balasan